Rabu, 29 Juli 2020

Review Film (Spoiler Alert)
Judul Film: The Royal Tailor
Rilis: 24 Desember 2014 (Korea Selatan)
Sutradara: Lee Won-suk
Pemain: Han Suk-kyu, Go Soo, Park Shun-hye, dan Yoo Yeon-seok.
Durasi : 2 jam 7 menit


Royal Tailor 

Nominasi: Penghargaan Seni Baeksang untuk Best Supporting Actor, Penghargaan Grand Bell untuk Aktor Pendukung Terbaik, Grand Bell Award for Best Cinematography, Grand Bell Award for Best Lighting, Grand Bell Award for Best Sound Recording

Penghargaan: Penghargaan Seni Baeksang untuk Kategori Film: Aktris Populer, Penghargaan Grand Bell untuk Penata Artistik Terbaik, Grand Bell Award for Best Costume Design.

*************

Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa ada bahan pakaian atau model pakaian tertentu yang hanya boleh dipakai oleh satu golongan saja? Ternyata ada, loh. Bahan itu adalah sutra. Zaman Dinasti Joseon, kain sutra hanya boleh dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja. Oleh karena itu, orang-orang pada masa itu berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara, agar bisa mendapat gelar bangsawan dari raja.

The Royal Tailor bercerita tentang persaingan dua penjahit pada masa Dinasti Joseon. Jo Dol-Seok adalah seorang penjahit kerajaan yang telah mengabdi selama 30 tahun. Ia bertanggung jawàb menjahit pakaian untuk raja dan ratu. Sebuah posisi yang sangat terhormat.
Jo Dol-Seok berasal dari kasta terendah, dan dilatih menjadi penjahit sebagai budak belian. Ia belajar dengan keras agar bisa menjadi penjahit pakaian keluarga kerajaan dan berharap mendapat gelàr bangsawan karena pengabdiannya. Salah satu alasannya agar bisa menggunakan pakaian dari sutra yang indah dan mahal. Yup, zaman itu kasta seseorang terlihat dari pakaian yang digunakannya.

Jo Dol-Seok menganggap dirinya adalah desainer terbaik pada masa itu. Suatu ketika, datang seorang penjahit muda yang urakan dan flamboyan, yang berhasil memperbaiki baju kebesàran raja dalam waktu 24 jam. Jo Dol-Seok merasa posisinya terancam. Le Gong-Jin, sang penjahit urakan tersebut, memiliki ide-ide unik untuk desainnya. Hampir semua orang ingin menggunakan rancangannya. Gong-Jin selalu ada ide membuat pakaian yang cocok dengan pemakainya. Para wanita kelihatan cantik dan seksi dengan pakaian karyanya. Begitupun dengan para lelaki, dengan pakaian yang diukur sesuai dengan ukuran badan mereka. Pada zama itu, pakaian masih dibuat dengan satu ukuran. Sehingga ada yang kebesaran atau kekecilan.

Film yang bergenre kolosal ini sangat menarik. Saya yang sangat menyukai sejarah, semakin tertarik dengan film ini, karena ada sejarah dunia fesyen-nya. The Royal Tailor ini tidak hanya mengangkat kisah percintaan raja dan ratu, serta intrik perebutan posisi ratu, melainkan juga mengangkat kisah penjahit pada masa Joseon.

Dinasti Joseon dikenal dinasti yang menjadi cikal bakal budaya, teknologi dan berbagai perkembangan lainnya. Para penjahit kerajaan ini berkarya dengan alat-alat sederhana. Mereka tidak menggunakan buku sketsa untuk membuat pola, tidak menggunakan meteran untuk mengukur, tidak ada mesin jahit maupun mesin bordir.

Mereka mengambil ukuran dengan menggunakan benang, dan menjahit dengan tangan. Bahkan bordiran dengan benang emas yang berkilauan dan mewah itu dikerjakan dengan tangan. Terlihat tangan penjahit yang terluka dan kapalan, karena sering menarik benang. Ketika Jo Dol-Seok mendobrak kediaman Gong-Jin, ia kaget dengan kecerdikan Gong-Jin yang menggunkan sketsa pola untuk setiap desainnya.

Dunia fashion selalu menarik untuk di tonton. Saya selalu takjub dengan ide orang-orang yang bekerja di dunia fashion. Di berbagai artikel yang saya temui, ternyata di abad pertengahan, hanya perempuan bangsawan ynag menggunakan pakaian dalam. See, pakaian dalam saja dibatasi penggunaannya. Apalagi pakaian luar atau gaun pesta. Kelihatan sekali perbedaan kasta-nya. Beruntung kita hidup zaman sekarang, bisa beli gamis brand apa saja asalkan ada uangnya.

Ketika Gong-Jin membuatkan sebuah baju untuk Ratu, banyak orang yang menyukainya. Mereka pun minta agar dibuatkan baju yang sama, tentu dengan bahan yang beda. Boleh dibilang, ratu merupakan trend setter fashion pada masa itu. Seorang selir yang ingin merebut kekuasaan ratu, memanfaatkan hal ini sebagai black campaign.

Padahal trend fashion itu terjadi sepanjang waktu. Tahun 1560, saat Ratu Elizabeth I mendapatkan hadiah stoking sutra, dan mulai sering memakainya. Masyarakat pun ikut-ikutan menggunakan stoking. Fashion ini tidak hanya menyebar di wanita Inggris saja, bahkan sampai ke seluruh Eropa hingga akhirnya ke Asia.

Seperti halnya Mary Phelps Jacob, yang berkreasi dengan saputangannya untuk menciptakan bra, di tahun 1914. Penemuan ini merupakan sebuah fesyen saat itu yang diikuti oleh banyak wanita.

Saya gregetan ketika raja yang berhasil dihasut selir menganggap bahwa ratu membawa aib bagi kerajaan, karena model pakaiannya ditiru rakyat. Duh, raja kudet banget, sih. Justru bagus kalau ratu menjadi trend setter fesyen. Berarti ratu adalah orang yang diakui kecantikannya oleh rakyat.

Kalian yang penasaran dengan proses pembuatan pakaian zaman Joseon, bagaimana proses pencarian warna baju, bolehlah luangkan waktu selama dua jam, tujuh menit untuk menyaksikan film The Royal Tailor ini. Dijamin film-nya tidak membosankan. Saya selalu takjub dengan cara Gong-Jin menemukan ide untuk desainnya, dan cara ia menentukan warna pakaian ciptaannya. Bahkan, Go-Jin mencari dan meramu warna yang belum ada, loh. Tak heran, pakaian yang digunakan ratu saat ada jamuan kerajaan, berhasil mengundang decak kagum orang yang melihatnya. Bagaimana karier Gong-Jin selanjutnya? Dan, apakah Jo Dol-Seok berhasil menjadi bangsawan seperti cita-citanya? Cuss, nonton aja. 😍

********

#NAD_30HariMenulis2020
#Hari_ke_14
#NomorAbsen_118
Jumlah kata: 794

Referensi:
https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/mirqotul-aliyah/dinasti-joseon-c1c2/5
https://m.brilio.net/film/10-drama-korea-kolosal-diangkat-dari-kisah-nyata-190429r.html
https://www.liputan6.com/global/read/2673440/seperti-ini-10-bentuk-pakaian-dalam-unik-pada-masa-lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review: Lister.co.id Sebagai Solusi Meningkatkan Skor IELTS Anda

Sewaktu masih kuliah dulu, saya bercita-cita ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, atau sekalian bekerja dan tinggal di luar negeri. Mung...