Selasa, 18 Februari 2020

Hutan Sagu Sebagai Sumber Pangan Masyarakat Maluku Utara


Aku dan Dika di tepi pantai Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara
Sumber: dokpri



Pertama kali kami menginjakan kaki di Kepulauan Sula, Maluku Utara Ă dalah pertengahan Februari 2017 silam. Daddy membawa kami orientasi wilayah tempat tinggal kami di sana, dan mengajak kami menemui sahabatnya, seorang nelayan penduduk asli pesisir Maluku Utara. 

Namanya Pak Zainal, usianya sekitar 50-an. Sosoknya besar tinggi, khas orang Maluku. Pembawaannya sangat bersahaja, dengan tutur bahasa yang sopan dan senyum yang selalu mengembang di bibir. Dengan kulit yang gelap karena terbakar matahari. Pertama kali bertatap muka dan berbincang dengan beliau, saya merasa dejavu. Seakan-akan pernah melihat sosok serupa. Yup, sosok Pak Zainal sangat mirip dengan tokoh Ayah Lintang yang digambarkan Andre Hirata dalam Laskar Pelangi. 

Sosok Pak Zainal, aktivitasnya di seputaran pantai Wai Ipa
Sumber: dokpri


Sehari-hari, Pak Zainal bekerja sebagai nelayan. Setiap fajar menyingsing, sehabis Subuh, ia akan melaut mencari ikan. Dengan perahu kecilnya, ia akan mendayung mengarungi laut Wai Ipa, Kepulauan Sula Maluku Utara. Karena jangkauan perahu yang terbatas, maka hasil yang didapat Pak Zainal pun terbatas. Terkadang hanya cukup untuk lauk makan sehari-hari. Namun, jika sedang beruntung, ikan yang diperoleh cukup banyak dan bisa dijual. 

Pak Zainal dan teman-temannya melaut dan mencari sagu
Sumber: dokpri

Ikan-ikan segar ini akan dimasak kuah kuning dengan citarasa yang segar, mirip dengan kuah asam dan pedas. Disajikan dengan papeda yang diolah dari tepung sagu, dan gulai sayur pakis. Pertama kali ditawari makan papeda, saya agak meringis. Bagaimana bisa, saya menelan makanan yang seperti lem itu? Akan tetapi, tidak lengkap rasanya jika tinggal di Maluku tapi tidak pernah makan papeda. Maka, saya pun memberanikan diri untuk mencoba. Apalagi Pak Zainal meyakinkan saya tentang manfaat papeda bagi indera pencernaan saya. 

Papeda pertama saya 😀
Sumber: dokpri

Mama Ina yang mengambilkan pepeda pertama kali untuk saya. Dengan menggunakan dua buah kayu seperti sumpit yang panjang, papeda di gulung-gulung sampai bisa diangkat ke piring. Lalu, Mama Ina menyiramkan kuah ikan kuning plus potongan kepala ikan kerapu. Woow, liur saya menetes saat melihat kepala ikan kerapu itu, guyss. Orang-orang Maluku memakan papeda dengan menggunakan tangan. Caranya papeda dicubit dan langsung disuap ke mulut. Saya agak parno harus mencelupkan tangan ke dalam papeda yang tergenang kuah ikan. 

Dika pun lahab makan papeda. Dia emang pemakan segala hehehe..
Sumber: dokpri

Oleh karena itu, saya memilih menggunakan sendok. Dann, mulai memakannya tak ubahnya makan bubur ayam. Ternyataa, rasanya enak sekali. Papeda yang tawar, dicampur kuah ikan yang gurih dan sedikit pedas, plus gulai daun pakis ini tercampur dengan harmoni yang nikmat sekali. Saya tidak pernah menyangka bahwa papeda akan seenak ini. Papeda yang didapat dari hutan sagu di dekat pantai, dan sayuran pakis yang bisa dipetik sepuasnya di tepi hutan. Semua bahan-bahan ini mereka dapatkan dari hutan. Hutan sumber pangan, masih berlaku di sini. Setidaknya saat itu, saat kami masih menetap di sana. 

Masyarakat yang mencari pohon sĂ gu di hutan bersama Daddy
Sumber: dokpri

Ada yang belum tahu papeda?
Papeda merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur yang terbuat dari tepung sagu. Baik untuk konsumsi sehari-hari, maupun untuk acara-acara istimewa. Setiap ada acara adat, baik pernikahan maupun kematian, papeda merupakan hidangan utama. Porsi yang disiapkan untuk para tamu, bahkan jauh lebih banyak dari pada nasi. Para tetua kampung, pemuka adat, pemuka agama selalu memilih papeda sebagai santapannya. 

Sajian papeda saat kami berkunjung ke salah satu daerah
Sumber: dokpri

Cara Membuat Papeda
Cara membuatnya pun cukup mudah, hanya butuh kecepatan dan kekuatan tangan untuk mengaduk larutan tepung sagu dalam tempo singkat. 
1. Tepung sagu yang ada dilarutkan terlebih dahulu dengan air dingin, kemudian disaring untuk memisahkan kotorannya. 
2. Larutan sagu tadi disiram dengan air mendidih, sambil diaduk dengan cepat sampai warna sagu berubah agĂ k keruh dan kental. 
3. Tambahkan perasan jeruk nipis agar warna papeda mengkilat dan bagus. Ini tips dari Om Ajie, nyong Ambon tetangga kami di wai ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara. 
4. Perubahan warna ini menandakan sagu sudah berubah menjadi papeda, dan siap disantap. 

Aseli, papeda ini dan ikannya saya yang bikin, loh 😍
Sumber: dokpri 


Sepanjang 2016-2018, kami sekeluarga berkesempatan untuk menetap di Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Sula. Hampir setiap hari kami menyantap papeda. Saya yang mempunyai riwayat penyakit maag, ternyata merasa nyaman menyantap papeda. Kandungan gizi pada sagu sebagai bahan utama papeda pun, cukup untuk menenuhi standar gizi masyarakat Indonesia. 


Papeda ini saya campur dengan konro, permintaan Daddy saat nggak enak badan
Sumber: dokpri

Proses pengolahan sagu
Proses pengolahan batang sagu menjadi tepung yang bisa diolah menjadi bahan pangan sangatlah panjang. Oleh karena itu, mereka bekerja secara berkelompok. Setelah pulang mengail (memancing ikan di laut) dan istirahat sejenak, Pak Zainal dan beberapa nelayan lain mengayuh perahu ke arah lain. Kali ini yang mereka tuju adalah hutan sagu. Mereka akan mencari pohon sagu yang sudah siap dipanen, minimal usia pohon sudah mencapai lima tahun. Semakin besar diameter pohon, maka semakin bagus kualitas sagu yang akan didapat. Pengerjaan memanen sagu ini lumayan panjang prosesnya. Oleh karena itu, mereka bekerja berkelompok. 

Pohon sagu dipotong-potong sesuai kebutuhan
Sumber: dokpri

Setelah menemukan pohon sagu yang cukup besar, mereka akan melakukan penebangan pohon sagu. Lalu, pohon sagu akan dipotong-potong, kemudian diparut dengan menggunakan mesin sederhana. 

Potongan ini siap diparut menggunakan mesin
Sumber: dokpri

Hasil parutan disiram dengan air beberapa kali sampai ampasnya tidak mengeluarkan pati lagi. Pati sagu yang turun bersama air akan mengendap. Endapan inilah yang merupakan tepung sagu yang nantinya diolah menjadi papeda dan makanan lainnya. 

Hasil parutan sagu yang akan diambil pati-nya.
Sumber: dokpri


Tepung sagu dijual per-tumang atau sekitar 20 kg. Ada juga yang dijual eceran berbentuk bola sagu. Kami biasanya membeli yang berbentuk bola sagu. Tiga bola sagu ini lebih dari cukup untuk makan kami bertiga, saya, Daddy dan Dika. Sedangkan Dani lebih memilih untuk makan nasi saja. 


Tepung sagu yang saya beli di pasar udah berbentuk bola sagu seperti ini
Sumber: dokpri

Hutan sagu
Sebagai sebuah negara yang memiliki letak geografis strategis, Indonesia memiliki tutupan hutan yang masih rapat, dengan luasnya yang mencapai 82, 5 juta hektar. Hal ini membuat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, termasuk salah satunya adalah hutan sagu. 

Sebanyak 55% pohon sagu dunia berada di Indonesia, dengan luas mencapai 1,5 juta hektar. Tersebar di wilayah Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, Jambi, Mentawai di Sumatera Barat, dan kepulauan Riau. 

Sagu atau Metroxylon sagu Rotb mempunyai banyak sekali manfaat. Semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. Daunnya dijadikan atap rumah, pelepahnyĂ  sebagai dinding rumah, batangnya diambil sari patinya, bahkan ampasnya pun bisa dimnĂ faatkan sebagai kompos. 

Pohon sagu  atau Metroxylon sagu Rottb, memiliki bentuk menyerupai pohon palma. 
Pohon sagu tumbuh di daerah rawa, dengan kadar air yang tinggi.ya pohon sagu tumbuh di tepian sungai atau wilayah dengan kadar air yang cukup tinggi seperti rawa. Tingginya bisa mencapai 30 meter, sehingga Pak Zainal dan teman-teman dapat menghasilkan 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu. Selain untuk persediaan sendiri, tepung sagu ini juga mereka jual ke pasar. 


Ayoo, lestarikan pohon sagu 

Pemanfaatan area sagu di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut data yang berhasil saya temukan, pemanfaatan ini hanya sekitar  0,1% dari total area sagu nasional. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti: 
-  Kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu, karena keterbatasan produksi dan kurangnya pengetahuan tentang sagu. 
-      Kemampuan produksi tepung sagu yang masih rendah.
-  Rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi produk lanjutannya.
-  Kondisi geografis yang cukup sulit, karena sagu biasa tumbuh pada daerah rawa yang cukup jauh. 

Hutan sagu
Sumber: dokpri


Ada banyak alasan mengapa sagu perlu dilestarikan, di antaranya adalah sebagai berikut: 
-  Sagu memiliki kadar karbohidrat cukup tinggi, namun rendah gula dan lemak sehingga sangat cocok bagi penderita diabetes.
-  Sangat cocok sebagai bahan pangan, kandungan karbohidrat yang terdapat pada pati sagu serta kalori yang cukup tinggi. Sehingga dijadikan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur.
-  Beberapa penelitian bahkan menemukan kalau sagu bisa diolah menjadi bahan baku industri kosmetik, kertas, bioetanol, pengbungkus kapsul, dan kemasan makanan yang biodegradable. 
-  Dengan adanya sagu, bisa ikut menjaga kestabilan pangan negara. 
- Tanaman sagu juga mampu menyerap air, sehingga cocok dijadikan tanaman penahan banjir. 
- Sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia Timur seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, dan NTT. 



Yup, sagu masih merupakan primadona makanan pokok masyarakat Maluku Utara. Begitu juga dengan saudara-saudara mereka di Maluku, Papua, dĂ n Nusa Tenggara. Sayangnya, makin lama popularitas sagu mulai terkalahkan oleh beras. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 
1. Berkurangnya luas hutan sagu
Terjadinya alih fungsi hutan sagu di berbagai daerah. Baik untuk pembangunan infrastruktur, perkebunan pangan, dan lainnya. Ini membuat berkurangnya hutan sagu yang ada. Masyarakat yang mempunyai tanaman sagu, banyak yang beralih ke tanaman lain. Sagu dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi. 

2. Kurangnya tenaga pekerja sagu
Membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit, untuk menemukan batang sagu yang bagus, dan mengolahnya menjadi tepung sagu siap pakai. Banyak generasi muda yang tidak tertarik menjadi pekerja sagu. Sepanjang kami tinggĂ l di Maluku Utara, hanya laki-laki dewasa yang pergi mencari sagu. 

3. Pergeseran gaya hidup masyarakat
Ada perubahan gaya hidup pada masyarakat Maluku Utara. Nasi dipercaya sebagai bahan makanan mewah yang membuat strata hidup masyarakat menjadi naik. Mereka percaya jika masyarakat yang makan nasi adalah golongan masyarakat menengah ke atas atau masyarakat mampu. 

Jika hal ini dibiarkan terus menerus, ada kekhawatiran terhadap keberadaan hutan sagu di Indonesia. Ada kemungkinan tepung sagu akan sulit ditemukan, dan kita akan kehilangan satu bahan pangan terbaik untuk membuat papeda. Jika pohon sagu tidak ada, maka tepung sagu akan sulit ditemukan, yang akhirnya berdampak pada harga jual yang mahal. Sedangkan tepung sagu masih digunakan masyarakat di Indonesia Timur sebagai bahan pangan untuk papeda. 

Jangan sampai hutan sagu yang ada sekarang menjadi Rimba Terakhir yang dikenal anak cucu kita, seperti kampanye WALHI agar kita menyelamatkan hutan sebagai sumber pangan. Bersama pemerintah dan masyarakat setempat, mari kita membangkitkan kembali nilai-nilai budaya lokal tentang pelestarian hutan sagu, penanaman kembali pohon sagu dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan hutan, agar anak cucu kita bisa merasakan hutan sumber pangan Indonesia.

Mari selamatkan Rimba Terakhir bersama WALHI
Sumber: walhi.co.id

WALHI dan aktivitasnya
WALHI adalah lembaga non profit terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang isu-isu lingkungan hidup. NGO yang berdiri atas prakrasa Erna Witoelar ini berdiri pada tanggal 15 Oktober 1980. Saat ini perwakilan WALHI tersebar di 28 provinsi Indonesia. Dengan menggaet tokoh-tokoh masyarakat, artis, pengusaha, dan individu lainnya, WALHI terus mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup terhadap masyarakat. Bahkan, WALHI mendapat mendapat peran di masyarakat dengan ikut serta dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Lingkungan Hidup di DPR. Pada tahun 1982 bersama dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya, WALHI membahas Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Undang-undang No.4 Tahun 1982), yang kemudian diadopsi dalam pasal 6. 

Selanjutnya pada tanggal  27 Oktober  1983 didirikan lembaga pendanaan program lingkungan hidup dengan nama Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML). WALHI menerima donasi dari institusi maupun perorangan untuk kampanye yang mereka lakukan. 
Nur Hidayati, direktur WALHI
Sumber: walhi.co.id

Oh ya, saat debat pilpres tahun 2019 yang lalu, WALHI melalui direkturnya, Nur Hidayati atau yang akrab dipanggil Yayah ini, menjadi salah satu panelis saat debat, loh. Jadi, beliau menanyakan kebijakan-kebijakan apa yang akan dilakukan presiden terpilih nantinya, terkait isu lingkungan hidup di Indonesia. Kerenn, yaa 

Selamat tinggal Wai Ipa...Selamat tinggal Sula..
Menjelang kepulangan kami dari Maluku Utara, Pak Zainal menderita sakit dan akhirnya meninggal. Alfatiha untuk beliau... Kami sekeluarga sangat kehilangan. Beliau yang biasa menemani Dani melihat karang, menemani Dika berenang, dan sering menemani kami mengobrol di tepi pantai. 
Pak Zainal habis nemani Dani ngeliat karang


Tidak ada lagi bapak pencari sagu yang sering bercerita banyak hal. Keluarganya pun tidak ada yang melanjutkan tugas Pak Zainal mencari sagu. Jika mereka ingin makan papeda, Mama Ina tinggĂ l ke pasar untuk membeli bola sagu. Itupun hanya secukupnya saja. Anak-anaknya lebih menyukai nasi. Jika harga beras sedang mahal, barulah mereka beralih ke sagu lagi. Sagu yang dulu banyak tumbuh di hutan, sekarang jumlahnya makin sedikit. Entah sampai kapan, pohon sagu masih tumbuh di hutan Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Forest Cuisine Blog Competition bersama WALHI dan Blogger Perempuan




#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Referensi data: 
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/sagu-makanan-pokok-andalan-orang-maluku
http://fwi.or.id/publikasi/hasil-hutan-yang-diabaikan-sagu-nasibmu-kini/
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/87192/Kandungan-Gizi-Tepung-Sagu/
http://infopublik.id/kategori/nusantara/355492/pohon-sagu-dan-identitas-orang-maluku

27 komentar:

  1. Tekstur papeda kenyal banget ya Mba. Kaya lagi makan jelly gitu ya mba sensasinya? Penasaran dari dulu sama papeda. Beberapa kali saya lihat di acara TV seperti jejak petualang atau si bolang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, mirip jelly tapi rasanya tawar. Yang bikin enak itu, kuah ikannya.

      Hapus
  2. Senangnya bisa berkunjung ke sana mbak. Belum pernah menikmati Pepeda langsung dari daerahnya. Hutan adalah sumber pangan kita. Lestarilah terus hutan Indonesia ku.

    BalasHapus
  3. Dika lahap benar ya makannya, pasti deh enak... Onti jadi pingin coba pepeda juga�� semoga hutan kita selalu lestari ya, biar bahan dasar dari hutan selalu teraedia:) semangat melestarikan...!

    BalasHapus
  4. Sedihnyaaa ...

    Perlu adanya kebijakan pemerintah terkait eksistensi lahan sagu ini ya, Bun. Penelitian lebih lanjut dan sosialisasi mengenai sagu mesti gencar dilakukan. Bisa jadi masyarakat luas tidak mau mengonsumsi karena tidak tahu. Dalam hal ini kandungan gizinya, manfaatnya, termasuk bisa diolah menjadi apa saja.

    Aku pun nggak tahu banyak soal sagu kalau tanpa membaca tulisan ini. Selama ini kita terlalu gencar memprioritaskan nasi ya sebagai makanan pokok. Sampai kekurangan pun akhirnya impor. Padahal alternatif sumber pangan lainnya masih sangat banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar bnget, sebenarnya banyak ya makanan yang bisa mengganti nasi dari kekayaan hasil bumi di Indonesia.

      Hapus
    2. Betul, Mbak. Sayangnya pak presiden kita malah menggalakkan beras sebagai makanan pokok Indonesia, tanpa melirik sagu di Indonesia Timur. Di Maluku sendiri, pemda setempat membuka lahan persawahan sesuai instruksi presiden, sehingga hutan sagu terlupakan.

      Hapus
  5. Al Fatihah buat almarhum Pak Zainal ya Mbak. Suka sedih melihat hutan sekarang banyak beralih fungsi. Ekosistem jadi tidak lagi seimbang. Semoga kedepannya masyarakat semakin sadar akan petingnya hutan bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Bicara masalah sumber pangan dari hutan, salah satunya sagu. Saya kok penasaran sama rasanya ya Mbak Eni. Belum pernah ngrasain yang namanya papeda. Ternyata campurannya bisa macam-macam ya.

    BalasHapus
  6. Kujadi penasaran gimana rasanya makan papeda ni Bun.Ngelihat Dhika kok maemnya lahap banget hehee... Emang ya di Indonesia Timur Sagu masih jadi piliha utama untuk makanan pokok ya Bun. Semoga hutan sagu bisa terus dilestarikan biar nggak punah untuk masa depan anak cucu.

    BalasHapus
  7. Kalau cuma melihat sih, rasanya yuni geli mau makannya. Tapi belum tahu ya kalau udah nyoba. Apakah papeda memang terasa nikmat? Nanti kita coba.

    BalasHapus
  8. Papeda enak sekali, waktu tinggal di Papua sering banget makan ini

    BalasHapus
  9. Pohon sagu sama pohon aren sama ga sih? Sagu tu sebutnya juga enau kan ya?

    BalasHapus
  10. Aku malah cita-cita banget pengin makan papeda, Mbak. Penasaran sensasinya kayak gimana.Kalau kuah kuningnya udah sering makan dimasakin sm temen. Nah, papedanya itu yg masih misteri.

    BalasHapus
  11. Saya membaca tentang papeda beberapa kali via cerpen. Pastinya belum pernah mencoba. Tapi kalau tepung sagu sih jadi favorit saya untuk bikin pempek atau cilok. Kenyalnya beda dengan kanji. Bisa gak ya pohon sagu ditanam di rumah, gitu? ;) Trus, hutan dagunya memang harus lestari ya. Tak sekedar untuk masyarakat Maluku tapi juga untuk Indonesia

    BalasHapus
  12. Saya penasaran dengan papeda, pernah lihat di TV orang yang makan papeda, keliatannya enaak

    BalasHapus
  13. Sagunya bentuk bola gitu yaa. Unik. Kalau di Bekasi kebanyakan berupa tepung bubuk. Duh, itu ikannya jadi bikin ngiler

    BalasHapus
  14. Aku belum pernah makan papeda, Mbak. Duh
    Bayangin berteman kepala ikan kerapu bumbu kuning, wah pasti enak sekali.
    Beruntung Mbak Enni bisa menikmati papeda langsung di kawasan ditanamnya pohon sagu ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya loh, pasti sensasinya beda kalau menikmati papeda di kota. Meskipun kalau dikasih ya bakal tetap menerima, hihihi ...

      Hapus
  15. Papeda ini pernah aku cicipin tapi yang versi jajanan di SD kekinian itu loh, Mak. Beda bentuknya ya. Kalau di abang gorengan deket SD. Papedanya dibentuk macam sempol. Kalo ini justru kaya bubur gitu ya jadinya. Pengen icip jadinya, penasaran soalnya

    BalasHapus
  16. Jadi masaknya nggak direbus ya, mbak, cuma disiram pakai air panas aja?
    Aku bayangin mirip bubur kanji hihi.
    Kalau dijadikan bubur manis ditambahin santan gitu enak kali, ya

    BalasHapus
  17. saya kok jadi pengen makan pepeda ya, jadi bikinnya juga mudah banget ya mbak, coba ah mumpung ada tepung sagu nih

    BalasHapus
  18. Wah cukup mudah ya bikin papeda. Aku sendiri belum pernah coba sih. Masya Allah Indonesia banyak sekali ya alternatif pengganti nasi.

    BalasHapus
  19. Papeda campur konro, bikin penasaran secara tuh saya penyuka konro. Eh itu maksudnya sop konro makanan khas Makassar kan?

    BalasHapus
  20. Papeda ini nanti rasanya kenyal gitu mba? Kayak cendol bukan ya? Saya malah fokus sama resep papedanya. Hihi

    BalasHapus
  21. Papeda ini ternyata mudah dibuat ya mbak, mirip sama cilor jajanan sekolah sekilas mah hehe

    BalasHapus
  22. wah papeda ini enak ya? saya sering denger tapi belum sempat coba ternyata mudah dibuat ya, mau ah coba-coba nanti, makasih infonya mba.

    BalasHapus

Distrik Kelila, Tanah Papua yang Ingin Kudatangi

Pemukiman honai  penduduk Kelila Credit: dokpri Suatu hari di tahun 2007, Bun mendapat notif postingan facebook dari Daddy. Postinga...