Selasa, 18 Februari 2020

Hutan Sagu Sebagai Sumber Pangan Masyarakat Maluku Utara


Aku dan Dika di tepi pantai Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara
Sumber: dokpri



Pertama kali kami menginjakan kaki di Kepulauan Sula, Maluku Utara Ă dalah pertengahan Februari 2017 silam. Daddy membawa kami orientasi wilayah tempat tinggal kami di sana, dan mengajak kami menemui sahabatnya, seorang nelayan penduduk asli pesisir Maluku Utara. 

Namanya Pak Zainal, usianya sekitar 50-an. Sosoknya besar tinggi, khas orang Maluku. Pembawaannya sangat bersahaja, dengan tutur bahasa yang sopan dan senyum yang selalu mengembang di bibir. Dengan kulit yang gelap karena terbakar matahari. Pertama kali bertatap muka dan berbincang dengan beliau, saya merasa dejavu. Seakan-akan pernah melihat sosok serupa. Yup, sosok Pak Zainal sangat mirip dengan tokoh Ayah Lintang yang digambarkan Andre Hirata dalam Laskar Pelangi. 

Sosok Pak Zainal, aktivitasnya di seputaran pantai Wai Ipa
Sumber: dokpri


Sehari-hari, Pak Zainal bekerja sebagai nelayan. Setiap fajar menyingsing, sehabis Subuh, ia akan melaut mencari ikan. Dengan perahu kecilnya, ia akan mendayung mengarungi laut Wai Ipa, Kepulauan Sula Maluku Utara. Karena jangkauan perahu yang terbatas, maka hasil yang didapat Pak Zainal pun terbatas. Terkadang hanya cukup untuk lauk makan sehari-hari. Namun, jika sedang beruntung, ikan yang diperoleh cukup banyak dan bisa dijual. 

Pak Zainal dan teman-temannya melaut dan mencari sagu
Sumber: dokpri

Ikan-ikan segar ini akan dimasak kuah kuning dengan citarasa yang segar, mirip dengan kuah asam dan pedas. Disajikan dengan papeda yang diolah dari tepung sagu, dan gulai sayur pakis. Pertama kali ditawari makan papeda, saya agak meringis. Bagaimana bisa, saya menelan makanan yang seperti lem itu? Akan tetapi, tidak lengkap rasanya jika tinggal di Maluku tapi tidak pernah makan papeda. Maka, saya pun memberanikan diri untuk mencoba. Apalagi Pak Zainal meyakinkan saya tentang manfaat papeda bagi indera pencernaan saya. 

Papeda pertama saya 😀
Sumber: dokpri

Mama Ina yang mengambilkan pepeda pertama kali untuk saya. Dengan menggunakan dua buah kayu seperti sumpit yang panjang, papeda di gulung-gulung sampai bisa diangkat ke piring. Lalu, Mama Ina menyiramkan kuah ikan kuning plus potongan kepala ikan kerapu. Woow, liur saya menetes saat melihat kepala ikan kerapu itu, guyss. Orang-orang Maluku memakan papeda dengan menggunakan tangan. Caranya papeda dicubit dan langsung disuap ke mulut. Saya agak parno harus mencelupkan tangan ke dalam papeda yang tergenang kuah ikan. 

Dika pun lahab makan papeda. Dia emang pemakan segala hehehe..
Sumber: dokpri

Oleh karena itu, saya memilih menggunakan sendok. Dann, mulai memakannya tak ubahnya makan bubur ayam. Ternyataa, rasanya enak sekali. Papeda yang tawar, dicampur kuah ikan yang gurih dan sedikit pedas, plus gulai daun pakis ini tercampur dengan harmoni yang nikmat sekali. Saya tidak pernah menyangka bahwa papeda akan seenak ini. Papeda yang didapat dari hutan sagu di dekat pantai, dan sayuran pakis yang bisa dipetik sepuasnya di tepi hutan. Semua bahan-bahan ini mereka dapatkan dari hutan. Hutan sumber pangan, masih berlaku di sini. Setidaknya saat itu, saat kami masih menetap di sana. 

Masyarakat yang mencari pohon sĂ gu di hutan bersama Daddy
Sumber: dokpri

Ada yang belum tahu papeda?
Papeda merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur yang terbuat dari tepung sagu. Baik untuk konsumsi sehari-hari, maupun untuk acara-acara istimewa. Setiap ada acara adat, baik pernikahan maupun kematian, papeda merupakan hidangan utama. Porsi yang disiapkan untuk para tamu, bahkan jauh lebih banyak dari pada nasi. Para tetua kampung, pemuka adat, pemuka agama selalu memilih papeda sebagai santapannya. 

Sajian papeda saat kami berkunjung ke salah satu daerah
Sumber: dokpri

Cara Membuat Papeda
Cara membuatnya pun cukup mudah, hanya butuh kecepatan dan kekuatan tangan untuk mengaduk larutan tepung sagu dalam tempo singkat. 
1. Tepung sagu yang ada dilarutkan terlebih dahulu dengan air dingin, kemudian disaring untuk memisahkan kotorannya. 
2. Larutan sagu tadi disiram dengan air mendidih, sambil diaduk dengan cepat sampai warna sagu berubah agĂ k keruh dan kental. 
3. Tambahkan perasan jeruk nipis agar warna papeda mengkilat dan bagus. Ini tips dari Om Ajie, nyong Ambon tetangga kami di wai ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara. 
4. Perubahan warna ini menandakan sagu sudah berubah menjadi papeda, dan siap disantap. 

Aseli, papeda ini dan ikannya saya yang bikin, loh 😍
Sumber: dokpri 


Sepanjang 2016-2018, kami sekeluarga berkesempatan untuk menetap di Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Sula. Hampir setiap hari kami menyantap papeda. Saya yang mempunyai riwayat penyakit maag, ternyata merasa nyaman menyantap papeda. Kandungan gizi pada sagu sebagai bahan utama papeda pun, cukup untuk menenuhi standar gizi masyarakat Indonesia. 


Papeda ini saya campur dengan konro, permintaan Daddy saat nggak enak badan
Sumber: dokpri

Proses pengolahan sagu
Proses pengolahan batang sagu menjadi tepung yang bisa diolah menjadi bahan pangan sangatlah panjang. Oleh karena itu, mereka bekerja secara berkelompok. Setelah pulang mengail (memancing ikan di laut) dan istirahat sejenak, Pak Zainal dan beberapa nelayan lain mengayuh perahu ke arah lain. Kali ini yang mereka tuju adalah hutan sagu. Mereka akan mencari pohon sagu yang sudah siap dipanen, minimal usia pohon sudah mencapai lima tahun. Semakin besar diameter pohon, maka semakin bagus kualitas sagu yang akan didapat. Pengerjaan memanen sagu ini lumayan panjang prosesnya. Oleh karena itu, mereka bekerja berkelompok. 

Pohon sagu dipotong-potong sesuai kebutuhan
Sumber: dokpri

Setelah menemukan pohon sagu yang cukup besar, mereka akan melakukan penebangan pohon sagu. Lalu, pohon sagu akan dipotong-potong, kemudian diparut dengan menggunakan mesin sederhana. 

Potongan ini siap diparut menggunakan mesin
Sumber: dokpri

Hasil parutan disiram dengan air beberapa kali sampai ampasnya tidak mengeluarkan pati lagi. Pati sagu yang turun bersama air akan mengendap. Endapan inilah yang merupakan tepung sagu yang nantinya diolah menjadi papeda dan makanan lainnya. 

Hasil parutan sagu yang akan diambil pati-nya.
Sumber: dokpri


Tepung sagu dijual per-tumang atau sekitar 20 kg. Ada juga yang dijual eceran berbentuk bola sagu. Kami biasanya membeli yang berbentuk bola sagu. Tiga bola sagu ini lebih dari cukup untuk makan kami bertiga, saya, Daddy dan Dika. Sedangkan Dani lebih memilih untuk makan nasi saja. 


Tepung sagu yang saya beli di pasar udah berbentuk bola sagu seperti ini
Sumber: dokpri

Hutan sagu
Sebagai sebuah negara yang memiliki letak geografis strategis, Indonesia memiliki tutupan hutan yang masih rapat, dengan luasnya yang mencapai 82, 5 juta hektar. Hal ini membuat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, termasuk salah satunya adalah hutan sagu. 

Sebanyak 55% pohon sagu dunia berada di Indonesia, dengan luas mencapai 1,5 juta hektar. Tersebar di wilayah Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, Jambi, Mentawai di Sumatera Barat, dan kepulauan Riau. 

Sagu atau Metroxylon sagu Rotb mempunyai banyak sekali manfaat. Semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. Daunnya dijadikan atap rumah, pelepahnyĂ  sebagai dinding rumah, batangnya diambil sari patinya, bahkan ampasnya pun bisa dimnĂ faatkan sebagai kompos. 

Pohon sagu  atau Metroxylon sagu Rottb, memiliki bentuk menyerupai pohon palma. 
Pohon sagu tumbuh di daerah rawa, dengan kadar air yang tinggi.ya pohon sagu tumbuh di tepian sungai atau wilayah dengan kadar air yang cukup tinggi seperti rawa. Tingginya bisa mencapai 30 meter, sehingga Pak Zainal dan teman-teman dapat menghasilkan 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu. Selain untuk persediaan sendiri, tepung sagu ini juga mereka jual ke pasar. 


Ayoo, lestarikan pohon sagu 

Pemanfaatan area sagu di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut data yang berhasil saya temukan, pemanfaatan ini hanya sekitar  0,1% dari total area sagu nasional. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti: 
-  Kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu, karena keterbatasan produksi dan kurangnya pengetahuan tentang sagu. 
-      Kemampuan produksi tepung sagu yang masih rendah.
-  Rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi produk lanjutannya.
-  Kondisi geografis yang cukup sulit, karena sagu biasa tumbuh pada daerah rawa yang cukup jauh. 

Hutan sagu
Sumber: dokpri


Ada banyak alasan mengapa sagu perlu dilestarikan, di antaranya adalah sebagai berikut: 
-  Sagu memiliki kadar karbohidrat cukup tinggi, namun rendah gula dan lemak sehingga sangat cocok bagi penderita diabetes.
-  Sangat cocok sebagai bahan pangan, kandungan karbohidrat yang terdapat pada pati sagu serta kalori yang cukup tinggi. Sehingga dijadikan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur.
-  Beberapa penelitian bahkan menemukan kalau sagu bisa diolah menjadi bahan baku industri kosmetik, kertas, bioetanol, pengbungkus kapsul, dan kemasan makanan yang biodegradable. 
-  Dengan adanya sagu, bisa ikut menjaga kestabilan pangan negara. 
- Tanaman sagu juga mampu menyerap air, sehingga cocok dijadikan tanaman penahan banjir. 
- Sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia Timur seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, dan NTT. 



Yup, sagu masih merupakan primadona makanan pokok masyarakat Maluku Utara. Begitu juga dengan saudara-saudara mereka di Maluku, Papua, dĂ n Nusa Tenggara. Sayangnya, makin lama popularitas sagu mulai terkalahkan oleh beras. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 
1. Berkurangnya luas hutan sagu
Terjadinya alih fungsi hutan sagu di berbagai daerah. Baik untuk pembangunan infrastruktur, perkebunan pangan, dan lainnya. Ini membuat berkurangnya hutan sagu yang ada. Masyarakat yang mempunyai tanaman sagu, banyak yang beralih ke tanaman lain. Sagu dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi. 

2. Kurangnya tenaga pekerja sagu
Membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit, untuk menemukan batang sagu yang bagus, dan mengolahnya menjadi tepung sagu siap pakai. Banyak generasi muda yang tidak tertarik menjadi pekerja sagu. Sepanjang kami tinggĂ l di Maluku Utara, hanya laki-laki dewasa yang pergi mencari sagu. 

3. Pergeseran gaya hidup masyarakat
Ada perubahan gaya hidup pada masyarakat Maluku Utara. Nasi dipercaya sebagai bahan makanan mewah yang membuat strata hidup masyarakat menjadi naik. Mereka percaya jika masyarakat yang makan nasi adalah golongan masyarakat menengah ke atas atau masyarakat mampu. 

Jika hal ini dibiarkan terus menerus, ada kekhawatiran terhadap keberadaan hutan sagu di Indonesia. Ada kemungkinan tepung sagu akan sulit ditemukan, dan kita akan kehilangan satu bahan pangan terbaik untuk membuat papeda. Jika pohon sagu tidak ada, maka tepung sagu akan sulit ditemukan, yang akhirnya berdampak pada harga jual yang mahal. Sedangkan tepung sagu masih digunakan masyarakat di Indonesia Timur sebagai bahan pangan untuk papeda. 

Jangan sampai hutan sagu yang ada sekarang menjadi Rimba Terakhir yang dikenal anak cucu kita, seperti kampanye WALHI agar kita menyelamatkan hutan sebagai sumber pangan. Bersama pemerintah dan masyarakat setempat, mari kita membangkitkan kembali nilai-nilai budaya lokal tentang pelestarian hutan sagu, penanaman kembali pohon sagu dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan hutan, agar anak cucu kita bisa merasakan hutan sumber pangan Indonesia.

Mari selamatkan Rimba Terakhir bersama WALHI
Sumber: walhi.co.id

WALHI dan aktivitasnya
WALHI adalah lembaga non profit terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang isu-isu lingkungan hidup. NGO yang berdiri atas prakrasa Erna Witoelar ini berdiri pada tanggal 15 Oktober 1980. Saat ini perwakilan WALHI tersebar di 28 provinsi Indonesia. Dengan menggaet tokoh-tokoh masyarakat, artis, pengusaha, dan individu lainnya, WALHI terus mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup terhadap masyarakat. Bahkan, WALHI mendapat mendapat peran di masyarakat dengan ikut serta dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Lingkungan Hidup di DPR. Pada tahun 1982 bersama dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya, WALHI membahas Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Undang-undang No.4 Tahun 1982), yang kemudian diadopsi dalam pasal 6. 

Selanjutnya pada tanggal  27 Oktober  1983 didirikan lembaga pendanaan program lingkungan hidup dengan nama Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML). WALHI menerima donasi dari institusi maupun perorangan untuk kampanye yang mereka lakukan. 
Nur Hidayati, direktur WALHI
Sumber: walhi.co.id

Oh ya, saat debat pilpres tahun 2019 yang lalu, WALHI melalui direkturnya, Nur Hidayati atau yang akrab dipanggil Yayah ini, menjadi salah satu panelis saat debat, loh. Jadi, beliau menanyakan kebijakan-kebijakan apa yang akan dilakukan presiden terpilih nantinya, terkait isu lingkungan hidup di Indonesia. Kerenn, yaa 

Selamat tinggal Wai Ipa...Selamat tinggal Sula..
Menjelang kepulangan kami dari Maluku Utara, Pak Zainal menderita sakit dan akhirnya meninggal. Alfatiha untuk beliau... Kami sekeluarga sangat kehilangan. Beliau yang biasa menemani Dani melihat karang, menemani Dika berenang, dan sering menemani kami mengobrol di tepi pantai. 
Pak Zainal habis nemani Dani ngeliat karang


Tidak ada lagi bapak pencari sagu yang sering bercerita banyak hal. Keluarganya pun tidak ada yang melanjutkan tugas Pak Zainal mencari sagu. Jika mereka ingin makan papeda, Mama Ina tinggĂ l ke pasar untuk membeli bola sagu. Itupun hanya secukupnya saja. Anak-anaknya lebih menyukai nasi. Jika harga beras sedang mahal, barulah mereka beralih ke sagu lagi. Sagu yang dulu banyak tumbuh di hutan, sekarang jumlahnya makin sedikit. Entah sampai kapan, pohon sagu masih tumbuh di hutan Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Forest Cuisine Blog Competition bersama WALHI dan Blogger Perempuan




#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Referensi data: 
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/sagu-makanan-pokok-andalan-orang-maluku
http://fwi.or.id/publikasi/hasil-hutan-yang-diabaikan-sagu-nasibmu-kini/
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/87192/Kandungan-Gizi-Tepung-Sagu/
http://infopublik.id/kategori/nusantara/355492/pohon-sagu-dan-identitas-orang-maluku

Senin, 20 Januari 2020

QR Code Sebagai Alat Pembayaran Milenial

Sumber: https://www.sureplus.id

Pertengahan Juni 2018..
Kami sekeluarga baru mendarat di Soeta setelah melakukan penerbangan selama 3 jam dari Ambon. Perbedaan waktu Jakarta yang lebih cepat dua jam dibanding ambon, membuat anak-anak mengalami jetlag. Sibungsu Dika merasa mual dan pengen makan something yang nggak terlalu berat, tapi cukup segar di mulut.

Saya berinisiatif mampir ke sebuah coffe shop bandara yang menyediakan aneka minuman hangat dan pastry. Kemudian, memesan satu ekspresso untuk suami, coklat panas untuk Dika dan Dani, lalu sebuah sandwich ukuran jumbo yang dipotong empat. Lumayan, bisa untuk menghemat hihi..

Sumber: Pexels.com

Setelah membayar pesanan, saya mengambil tempat duduk untuk menunggu pesanan sambil melihat pelayan yang cekatan menyiapkan pesanan. Mm, enak juga punya cafe begini, ya. Eh, saya jadi menghayal. Hahaha..

Tetiba, ada remaja putri yang tertarik juga dengan menu cafe ini. Setelah memilih paket minuman dan  favorit-nya, dia mengarahkan gawai-nya dan men-scan barcode yang ada di struk. Whatt? Dengan santuy-nya dia melakukan pembayaran, hanya dengan bermodalkan gawai yang ada di genggaman.

Saya nggak tahan untuk tidak bertanya pada mas pelayan di cafe, saat beliau menyerahkan pesanan saya.

Sumber: Pexels.com

"Mm, sekarang udah bisa bayar pake barcode ya, Mas?" Ketauan udiknya saya. Hahaha...
"Iya, Bu. Udah bisa sekarang, mah.
"Oh, hebatlah. Makin praktis, ya

" Ya, Bu. Jadi, kalo jalan kita nggak perlu bawa uang lagi. Bahkan bawa kartu atm juga udah nggak perlu". Si Mas ngejelasin dengan semangat.
"Mm..Tapi kita tetap kudu ngisi ATM-nya, kan? Kalo nggak, gimana bisa barcode-nya ada saldo." Canda saya.

"Iyaa, sih. Tetap harus kerja keras biar barcode bisa dipakai untuk bayar-bayar".

Sumber: Pexels.com

Apa sih QR Code
QR Code adalah salah satu jenis kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, dari divisi Denso Corporation, sebuah perusahaan dari Jepang. Kode QR ini dipublikasikan pertama kali tahun 1994. 

Fungsi utamanya saat itu adalah menyampaikan informasi dengan cepat. Sesuai dengan namanya QR yang artinya quick response. Kode QR memiliki kemampuan untuk menyimpan informasi secara vertikal dan horizontal, berbeda dengan kode batang pada umumnya yang hanya menyimpan informasi secara horizontal. Kode QR telah mendapatkan standarisasi internasional dan standarisasi dari Jepang melalui ISO/IEC 18004 dan JIS-X-0510.

Kemajuan teknologi informasi saat ini, membuat perubahan lifestyle pada sistem pembayaran di masyarakat. Jika selama ini, kita sudah cukup di udahkan dengan pembayaran via debit card atau credit card, sekarang dengan adanya QR code, kedua kartu tersebut tidak diperlukan lagi. Sistem pembayaran ini disebut QR Payment.

Mengenal QR Payment
QR payment adalah sistem pembayaran dengan menggunakan barcode atau QR Code sebagai alat pembayaran. QR Code akan discan setiap melakukan transaksi pembayaran. Untuk melakukan transaksi pembayaran, kita membutuhkan koneksi internet untuk men-scan QR Code yang tertera di merchant. 


Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia sudah menetapkan standarisasi pembayaran berbasis QR Code. Standarisasi ini disebut dengan QR Standar Indonesia. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa QRSI merupakan standar alat pembayaranyang dikembangkan oleh pelaku industri perbankan. Ke depannya nanti, QRSI ini akan menjadi pedoman untuk menyediakan pembayaran berbasis QR Code. Cara kerjanya tetap harus menggunakan EDC (electronic data capture) , yang akan mengeluarkan struk total belanja dan QR Code. Kemudian, QR Code ini di scan oleh ponsel pintar sebagai alat pembayaran. Hingga saat ini, sudah terdapat 19 bank dan 68 merchant di Indonesia, yang telah terhubung dengan QRSI.

Teman-teman yang biasa menggunakan transportasi online tentu sudah biasa dengan sistem pembayaran QR Code ini. Yup, Go-Jek sudah menerapkannya melalui fitur Go-Pay yang terbukti cukup berhasil di masyarakat. Disusul oleh 4 bank besar di Indonesia, yang meluncurkan aplikasi dompet digital dengan sistem QR Payment. Mereka adalah BNI dengan YAPP!, BCA dengan QR-ku, BRI dengan MY QR, Mandiri dengan Mandiri Pay.

Bank Indonesia telah menerima pengajuan dari perusahaan-perusahaan yang ingin menggunakan QR Code sebagai sistem pembayaran mereka. Pada dasarnya Bank Indonesia akan menyetujui permohonan tersebut, asalkan memenuhi persyaratan sesuai standar QRSI. 

Persyaratan ini penting karena menyangkut keamanan dana konsumen. QR Code payment ini membuat masyarakat tidak perlu membawa kartu debit atau uang tunai sekalipun. QRSI membuat saldo rekening kita terkoneksi dengan ponsel pintar. SehinggĂ , sisgem keamanannya harus dipastikan terhubung dengan GPN (Gerbang Pembayaran Nasional).


Kelebihan dan kekurangan QR Code Payment
Kemajuan teknologi bagaikan dua sisi pisau bagi peradapan manusia. Di satu sisi, kemudahan QR Code Payment ini membuat proses transaksi menjadi lebih mudah. Jik kita lupa membawa dompet, atau lupa membawa uang tunai, selama ada saldo di ponsel pintar, maka transaksi tetap bisa berjalan. 

Akan tetapi, dibalik segala kemudahan itu, ada hal yang harus diperhatikan. Yaitu sifat konsumtif masyarakat. Nah, teman-teman yang menggunakan QR Code Payment sebagai alat pembayaran zaman milenial ini, sebaiknya bisa menggunakannya dengan bijaksana, ya

#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk

Referensi:
https://www.suara.com/bisnis/2019/03/21/202231/bi-uji-coba-standarisasi-alat-pembayaran-berbasis-qr-code
https://www.suara.com/bisnis/2019/05/27/125301/bi-luncurkan-pedoman-alat-pembayaran-berbasis-qr-code
https://www.cermati.com/artikel/ketahui-4-aplikasi-qr-code-payment-milik-4-bank-besar-indonesia-ini

Minggu, 12 Januari 2020

Liputan Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung 2020

What do you about "wisuda"? 

Sebuah kata keramat yang sangat akrab di kalangan mahasiswa dan mahasiswi. Bisa jadi, wisuda merupakan hal yang paling ditunggu oleh mereka. Setelah bersusah payah mengikuti semua mata kuliah, mengerjakan tugas-tugas, dan menyelesaikan skripsi, hal berikutnya yang dinanti adalah prosesi wisuda. 

Duapuluh tahun yang lalu, saya beruntung bisa merasakan kegembiraan wisuda. Membawa orang tua menginjak kampus tempat kuliah selama ini, dan ikut dalam kekhusyuan acara wisuda

Perasaan haru, bahagia, dan bangga bercampur menjadi satu. Bangga karena sebagai anak kampung, saya telah berhasil menyelesaikan kuliah. Bahagia melihat senyum orang tua yang bangga telah mengantarkan anaknya menjadi seorang sarjana.

Venue acara
Sumber: Pasukan Blogger Joeragan Artikel


Begitupun yang dirasakan adik-adik STT Bandung kemarin. Salah satu kampus terkemuka di Bandung ini berhasil meluluskan ratusan mahasiswanya awal tahun ini. Saya berkesempatan  melakukan liputan secara online wisuda ini, bisa merasakan aura bahagia wisudawan dari tayangan live di IG @sttbandung. Sebanyak 209 wisudawan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung mengikuti acar wisuda Sabtu, 11 Januari 2020. 

Mereka terdiri dari beberapa prodi, yaitu:
- Teknik Industri, sebanyak 113 orang
- Teknik Informatika, sebanyak 70 orang
- Desain Komunikasi Visual, sebanyak 26 orang

Venue acara
Sumber: Pasukan Blogger Joeragan Artikel 

Bertempat di Hotel Harris & Conventions, Festival City Link Bandung, prosesi wisuda dilakukan. Acara dimulai setelah anggota senat, VVIP, dĂ n keyonte speaker memasuki ruangan. Dengan regu penari sebagai pendampingnya, prosesi memasuki ruangan cukup menggetarkan. 

VVIP dan keynote spekaer memasuki ruangan
Sumber: Live IG @sttbandung

Kemudian dilanjutkan dengan tarian selamat datang yang dibawakan oleh unit seni tari STT Bandung. Selanjutnya pembukaan sidang senat terbuka oleh ketua STT Bandung. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dialunkan setelah itu, lalu mengheningkan cipta dan dilanjutkan dengan alunan lagu Mars STT Bandung. Perasaan bergetar dalam jiwa muncul ketika mendengar alunan yang penuh semangat tersebut. Unit paduan suara STT Bandung terbukti melakukan tugasnya dengan baik saat itu.

Tari Jaipong oleh Unit Tari STTB
Sumber: live IG @sttbandung

Acara dilanjutkan dengan laporan dari Ketua STT Bandung, Muchammad Naseer, S.Kom, M.T. yang dilanjutkan dengan sambutan dari ketua yayasan Dr. Dadang Hermawan.

Sambutan ketua STTB
Sumber: live IG @sttbandung


Acara wisuda STT Bandung kali ini menampilkan keynote speaker Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, M.B.A. Penerus dari bapak B.J. Habibe ini menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0". 
Keynote speaker: Ilham Habibie
Sumber: Pasukan Blogger JA

Ilham yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional menyampaikan bahwa Indonesia merupakan bagian dari ekonomi global, yang akan menyongsong era teknologi 4.0 yang berbasis pada ekonomi digital, artificial intelegence, big data dan robotics. Merupakan tantangan bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan berbagai inovasi agar bisa stand out di era insdustri 4.0 ini. Ilham Habibie juga mengatakan bahwa karakter yang harus dimiliki para inovator di era 4.0 di antaranya adalah sebagai berikut, yaitu: 
- Opportunity mindset
- Formal Education / Training
- Proactivy
- Prudence
- Social Capital

Acara utama akhirnya tiba, yaitu pelantikan wisudawan dan wisudawati. Satu persatu mereka maju ke depan, dilantik, dan sah menyandang gelar sarjana. Raut-raut wajah bahagia terpancar dari mereka. 

Oh ya, bicara soal inovasi, adik-adik STT Bandung ini sangat mengagumkan. Terbukti dengan berbagai pencapaian mereka berikut ini, yang diumumkan setelah pelantikan, yaitu:

Skripsi terbaik dari prodi TI :
1. Virgiawan Candra Bhakti, S.T
Judul skripsi : Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed Dengan Pendekatan Karakuri
2. Indra Rukmana, S.T
Judul skripsi : Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linear Progamming
3. Zaenal Uyun, S.T
Judul skripsi: Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kansei Engineering

Skripsi Terbaik dari prodi TIF:
1. Deri Hermawan, S.KOM
Judul skripsi: Aplikasi 3D Virtual Reality Sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android
2. Regina Sukma Citra, S.KOM
Judul skripsi: Klasifikasi Ujaran Kebencian Dengan Metode Naive Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis Web
3. Yasti Aisyah Primianjani, S.KOM
Judul skripsi: Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik KWH Meter Pascabayar Berbasis Web Menggunakan Mikrokontroler 

Skripsi Terbaik dari prodi DKV
1. Andri Setiawan, S.Ds 
Judul skripsi: Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah
2. Bagus Arya Suseno, S.Ds 
Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT 07 RW 08 Baleendah Kab. Bandung
3. Luthfi Alfaritzi, S.Ds - Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat Untuk Anak (usia 8-12 tahun) di Kota Bandung

Melihat judul-judul skripsi di atas, saya menjadi tambah kagum dengan adik-adik STT Bandung ini. Betapa mereka telah disiapkan untuk menyongsong era industri 4.0

Selain itu ada juga kategori wisudawan terbaik, di antaranya adalah sebagai berikut: 
Wisudawan terbaik dari prodi TI: Dheyu Laksmi Wulandari, S.T
Wisudawan terbaik dari prodi TIF: Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom
Wisudawan Terbaik dari prodi DKV: Tiffani Zeta D, S.Ds

Dalam acara wisuda ini juga dilakukan penandatangan Mou dengan mitra STT Bandung, yaitu:
-  PT. Dirgantara Indonesia
-  Jasa Marga
-  Biofarma

Paduan suara STT Bandung
Sumber: Pasukan Blogger JA

Ada persembahan puisi untuk para orang tua, alunan lagu-lagu nasional dan pengucapan janji wisudawan. Acara berakhir dengan doa dan sidang senat terbuka pun, ditutup kembali oleh ketua STTB. Selamat kepada STT Bandung atas perhelatan yang megah ini. Selamat memasuki dunia baru adik-adikku. Semoga Indonesia menjadi lebih baik di tanganmu nanti. Aamiin.

WisudaXIVSTTBandung
#CampusofInnovation
#CampusofTechnology
#CampusofDesign
#CampusofCreativity
#CampusofFutureLeader

Hutan Sagu Sebagai Sumber Pangan Masyarakat Maluku Utara

Aku dan Dika di tepi pantai Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara Sumber: dokpri Pertama kali kami menginjakan kaki di Kepulau...