Senin, 14 Oktober 2019

Lakukan 3 Hal Ini Agar Anak Terhindar dari Sakit

Rasanya sangat menyedihkan kalo si kecil sakit, ya. Rumah yang biasanya rame oleh gelak tawanya, tiba-tiba terasa sepi. Meja makan yang biasanya nggak pernah rapi, malah seperti belum disentuh sama sekali. Camilan yang biasanya cepat habis, malah nggak ditengok. Bun jadi salah tingkah dan mati gaya, deh. Biasanya pagi-pagi udah rempong oleh celoteh mereka, yang butuh ini dan butuh itu.

Anak yang sehat
Sumber: pexels.com

Tetiba, menjadi hening dan sepi. Walaupun hanya sakit ringan seperti demam atau flu, tetap saja mempengaruhi vitalitas mereka. Mainnya jadi terbatas, dan sekolah pun tak jarang jadi terpaksa izin dulu. Apalagi jika sedang dalam masa pancaroba seperti sekarang. Peralihan dari musim kemarau panjang, menuju musim hujan. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki curah matahari yang besar sepanjang tahun. Apalagi tahun ini, musim kemarau berlangsung cukup panjang. Selain debu dan panas matahari yang luar biasa, ditambah lagi dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan kebakaran lahan di berbagai daerah. 

Lokasi kebakaran lahan di Sekayu, Sumatera Selatan
Sumber: dokpri


Kondisi ini menjadi pemicu bagi gangguan kesehatan anak-anak. Tidak sedikit anak-anak yang menderita gangguan pernafasan akibat kondisi alam sekarang ini. Harus kita akui bahwa kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat beraktivitas dengan maksimal. Suasana hati menjadi riang dan penuh semangat, dan siap menaklukan dunia. 

Sayangnya, kita sering tidak menyadari pentingnya kesehatan hingga suatu saat merasakan ada yang berbeda dengan tubuh. Apalagi jika ini menyangkut anak-anak. Anak yang sudah besar mungkin bisa mengungkapkan jika ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Akan tetapi, bagaimana dengan anak yang lebih kecil. 

Anak-anak ini hanya bisa menangis, dan merengek saat merasakan hal yang tidak nyaman dengan tubuhnya. Orang tua yang tidak peka, hanya menganggap suasana hati anak sedang tidak baik, sehingga cenderung rewel. Padahal, sikap rewel mereka merupakan indikasi dari rasa tidak nyaman atau rasa sakit yang dirasakan anak.

Waspada terhadap gejala yang terlihat
Setiap gejala yang tidak biasa, sekalipun itu adalah gejala yang ringan, hendaklah diwaspadai. Pengalaman beberapa orang teman menjelaskan tentang hal ini. Balita yang sering terjatuh saat belajar berjalan, harus diwaspadai. Jika intensitas jatuhnya melebihi anak-anak seusianya. 

Anak yang sering pilek, juga harus diwaspadai, jika intensitas pileknya jauh lebih banyak daripada sembuhnya. Anak yang jarang buang air kecil maupun air besar, juga harus diwaspadai. Anak yang mudah lelah, dengan napas tersengal, jangan dianggap sepele atau menganggap anak hanya kecapekan saja. 

Waspada bukan berarti menakut-nakuti dengan sesuatu yang belum pasti. Waspada berarti bersiap dengan kondisi yang mungkin akan terjadi. Dengan bersikap waspada, kita bisa melakukan langkah pengobatan dan pencegahan yang lebih dini. Hal ini diharapkan dapat mencegahnya menjadi penyakit yang lebih serius. 

Untuk menjaga kesehatan anak-anak, ada tiga hal yang bisa kita lakukan, yaitu dengan memberikan imunisasi, dan pemberian gizi yang cukup, dan menjaga kebersihan.

1. Melakukan Imunisasi
Salah satu cara menjaga kesehatan anak-anak adalah dengan memberikan imunisasi sesuai dengan usianya. Imunisasi merupakan proses pemberian vaksin pada anak atau bayi. Pertama kali dikenalkan oleh seorang sarjana asal Inggris, Janner tahun 1797. Pemberian vaksin ini terbukti berhasil menguatkan imunitas anak. Ada beberapa penyakit yang bisa di cegah dengan imunisasi, seperti:
a. TBC
b. DPT
c. Tetanus
d. Polio
e. Campak
f. Hepatitis B
g. MMR
h. Flu
i. Disentri 

Walaupun banyak orang tua yang kontra terhadap pemberian imunisasi pada anak, silakan saja. Akan tetapi, masih banyak juga yang percaya pada manfaat pemberian imunisasi pada anak-anak. Jika Anda memilih untuk tidak memberikan imunisasi pada anak, segera cari imun pengganti untuk anak. Tidak ada paksaan untuk hal ini. Intinya lakukan hal terbaik dan maksimal untuk perlindungan buah hati Anda. 

2. Gizi yang Baik
Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Ini artinya fisik kita, mencerminkan asupan yang kita makan. Apakah sesuai dengan standar gizi atau belum. Apalagi untuk anak-anak yang dalam masa pertumbuhan, asupan gizi yang cukup sangat penting bagi mereka. Kecukupan gizi ini hendaknya disadari oleh kepala keluarga (Ayah) dan wakilnya (Ibu). Ayah bertanggungjawab terhadap kebutuhan gizi anak-anak dengan memastikan ketersediaan bahan makanannya. Sedangkan ibu bertugas mengolahnya menjadi masakan yang mengundang selera bagi anak-anak.

Asupan buah dan sayur yang bagus untuk anak
Sumber: pexels.com


Menu makanan yang seimbang
Gizi yang baik sesuai dengan piramida makanan yang dianjurkan oleh tenaga ahli kesehatan. Artinya anak-anak harus mendapatkan asupan gizi yang lengkap. Mulai dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran hijau, buah-buahan, serta susu. Jika Anda sedang melakukan diet tertentu seperti diet karbo, anak-anak jangan diikutkan dalam program diet Anda, kecuali jika anak Anda menderita obesitas. Itupun harus didampingi oleh dokter ahli gizi, tidak bisa sembarangan diet. 

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memberikan makanan yang cukup gizi bagi anak. Cukup sajikan sepiring nasi, sepotong ikan atau tempe, dan tumis kangkung saja, sudah memenuhi standar kelengkapan gizi. Tidak harus ayam atau daging. 

Gizi buruk
Di beberapa daerah, saya menemukan kasus gizi buruk pada balita. Ironisnya, balita ini tidak selamanya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada beberapa dari keluarga guru ASN. Mengapa balita ini sampai terkena gizi buruk? Alasannya hanya karena si balita susah makan. Dann, si ibu tidak melakukan apa-apa agar anaknya mau makan.

Ikan bakar
Sumber: pexels.com


Anak saya Dani (13 tahun), akan kehilangan napsu makan jika saya memasak ikan. Alasannya bukan karena Dani tidak suka ikan, melainkan karena Dani pernah melihat saya tertelan duri ikan hingga batuk-batuk, muntah sampai keluar air mata. Hal ini membuat Dani trauma dan tidak mau makan dengan lauk ikan. Solusinya adalah saya yang mengambilkan nasi dan memilah-milah ikan dari durinya. Alhamdulillah, Dani bisa makan dengan lahap tanpa rasa khawatir. 

So, jika anak Anda tergolong susah makan, segera cari tahu sebabnya. Jangan biarkan berlarut-larut hingga anak mengalami kekurangan gizi. 

3. Menjaga Kebersihan
Menjaga kebersihan ini meliputi tiga hal, yaitu kebersihan diri sendiri, kebersihan lingkungan, dan kebersihan bahan makanan. Oleh karena itu, membutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk menjaga kebersihan ini. Setidaknya antar anggota keluarga harus saling peduli tentang lingkungan ini. 

Kebersihan diri
Kita tahu bahwa kuman itu ada di mana-mana, sehingga kita harus membersihkan tubuh sedikitnya dua kali sehari. Kulit yang bersih membuat kita terhindar dari berbagai penyakit kulit. Selain itu, tangan yang bersih saat menyantap makanan membuat makanan menjadi aman untuk dimakan. 

Kebersihan rumah tinggal
Selain itu, kebersihan rumah sebagai tempat tinggal juga harus diperhatikan. Di berbagai daerah terpencil, ada banyak rumah yang tergolong tidak layak huni. Dengan lantai masih berupa tanah, tanpa jendela yang cukup untuk sirkulasi udara, serta tidak memiliki kamar mandi yang layak. 

Rumah dengan sirkulasi yang baik
Sumber: pexels.com


Lalu, bagaimana jika anak sering beraktivitas di luar rumah. Bekali mereka dengan cairan pencuci tangan yang praktis, hingga tangan bisa tetap bersih saat tibanya waktu makan. Usahakan juga agar anak-anak membawa bekal makanan dari rumah, sehingga tidak perlu jajan sembarangan di sekolah. Kecuali kantin sekolahnya sudah lolos standar kebersihan dari dinas terkait. 

Demikianlah, tiga hal yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari sakit. Diharapkan dengan ikhtiar di atas, akan mengurangi resiko anak jatuh sakit. Selamat mencoba! 

#ChallengeJoearaganArtikel
#BlogJadiBuku

6 komentar:

  1. Iyaa mba' bener banget. Paling sedih kalau sampai anak sakit. Apalagi sampai opnam. Dulu pernah anak saya opnam waktu kecil. Diare. Saya jadi lebih berhati hati menjaga kebersihan makanan, minuman dan mainanannya

    BalasHapus
  2. Yah, kalau anak kecil sakit itu rasanya menyengat di hati. Sedih sekali. Itu yang yuni rasakan saat adik bungsu yuni sakit. Hehehe

    BalasHapus
  3. iya bun..sedih rasanya kalau anak sakit..biasanya jadi kurang ceria..betul-betul nikmat yang tak terhingga jika anak selalu sehat dan ceria

    BalasHapus
  4. Anak ke-1 dan 2 imunisasi anak ke 3 nggak mbak karena masalah ekonomi duluuu

    BalasHapus
  5. Sedih banget kalau anak sakit, nģga tega.

    BalasHapus
  6. Yup. Menjaga daya tahan tubuh anak itu penting banget. Kalau anak sakit, apalagi sampai opname, maka baru tersadar bahwa anak-anak yang sehat adalah nikmat yang tiada bandingnya.

    BalasHapus

Konektivitas Transportasi Mendukung Daerah Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)

Bandar Udara Sibisa, Toba Samosir, Sumatera Utara Sumber:  https://instagram.com/kemenhub151 Setahun yang lalu, saya beserta suami ...