Jumat, 17 Mei 2019

Tradisi Jalan-jalan di Bulan Puasa yang Kami Sebut Mudik

Bulan puasa biasanya badan jadi mager ya, guys. Alias malas gerak hehehe... Pengennya rebahan terus, sambil ngadem di kamar dan baca buku. Dann, sejujurnya Bun tergolong Emak rumahan banget. So, kalo nggak ada aktivitas ke luar, bakalan betah seharian di rumah. Akan tetapi, sebagai seorang sopir keluarga, Bun nggak mungkin stay at home all the rest of the day. 

Hujan deras tetap jalan


Mulai dari pagi hari saat fajar menyingsing hingga ba'da Magrib, sudah ada jadwal yang mengharuskan Bun keluar rumah. Mulai dari antar-jemput anak sekolah, antar-jemput Daddy kalo pas lagi di Sekayu, antar Mama atau mertua. Pokoknya, full seharian. Kalo malam, baru tuh badan berasa kayak habis digebukin hehhe.. Tapi, nggak apa-lah, kapan lagi jadi anak yang berbakti pada orang tua..uhukk

Lumayan aktif, yaa? Hahaha, Emak zaman now. Dengan aktivitas keluar yang padat begitu, membuat Bun termasuk orang yang suka jalan-jalan alias travelling. Akan tetapi, Bun nggak pernah merencanakan jalan-jalan di bukan puasa selain untuk mudik. Yup, mudik menjadi aktivitas jalan-jalan di bulan puasa yang rutin kami lakukan selama sepuluh tahun terakhir. 

Sewaktu masih tinggal di Jakarta dan Tangerang, acara mudik kami cukup simpel. Kalo nggak naik pesawat, kami menggunakan mobil via darat. Sejak Bun dianggap Daddy mampu nyetir jarak jauh, kami mudik selalu menggunakan mobil. Ya, lumayanlah. Ada sopir cadangan di jalan. Setiap tiga jam, Bun dan Daddy bergantian menjadi sopir. 

Istirahat di SPBU

Sehingga perjalanan kami termasuk cepat. Biasanya istirahat hanya untuk salat atau ke kamar mandi. Nah, waktu istirahat tersebut selalu dimanfaatkan juga untuk makan berat. Akan tetapi, kalo menyetir jarak jauh sebaiknya jangan makan terlalu kenyang, karena akan menyebabkan mata cepat mengantuk. Setidaknya itu yang terjadi pada Bun, kalo terlalu banyak makan di jalan. Jadi, nggak masalah kalo nyetir saat bulan puasa. Hayoo ajaa.. 

Pengalaman yang paling seru adalah mudik dari Kepulauan Sula, Maluku Utara ke Sekayu, Sumatera Selatan. Sebuah perjalanan yang lamaa dan panjang, guys. SerunyĆ  lagi, terdapat perbedaan waktu dua jam dari Maluku Utara yang menggunakan Waktu Indonesia Timur, dengan Palembang yang menggunakan Waktu Indonesia Barat.

Kami memulai perjalanan dari Pelabuhan Sanana, Kepulauan Sula, Maluku Utara dengan kapal laut pada sore hari. Untungnya, Daddy dapat kamar jadi kami sekeluarga bisa istirahat dengan nyaman di kapal. Setelah mengarungi laut Maluku selama empatbelas jam, kami pun bersandar di Pelabuhan Ambon keesokan paginya. Untuk melepas lelah, kami beristirahat di rumah teman Daddy, baru kemudian melanjutkan penerbangan ke Jakarta selama 3,5 jam sore harinya. 

Suasana Laut di Sanana


Oleh karena ada kendala di pesawatnya, penerbangan kami delay hingga jam 20.00 WIT. Sehingga nyampe Cengkareng udah hampir jam 22.00 WIB, karena waktu Jakarta dua jam lebih lambat dari Ambon. Rasanya gimana gituu, perasaan udah ngelewati jam 22.00 eh, kok nyampe masih jam 22.00 juga. Untung, penerbangannya malam, yaa. Kalo siang, pasti anak-anak merengek karena puasanya jadi lebih panjang. Kami pun istirahat di mess kantor di Pondok Indah, baru kemudian melanjutkan penerbangan ke Palembang keesokan harinya selam limapuluh menit, dan lanjut ke Sekayu dengan mobil selama tiga jam. 

Sudah ada kakak ipar yang menjemput di bandara, sehingga anak-anak merasa nyaman karena langsung masuk mobil dan tidur hehehe.. Sebenarnya perjalanannya tidak terlalu melelahkan, tapi entah mengapa rasanya mengantuk sekali. 

Padahal, Daddy sengaja memilih penerbangan malam biar adem dan kami bisa tidur. Paling Dika yang agak rewel saat dibangunkan untuk makan. Kalo Dani mah, malah minta tambah sama pramugari-nya. Ada-ada saja hahaha.. Cukup seru acara jalan-jalan di bulan puasa yang kami lakukan. Kedatangan kami selalu ditunggu oleh keluarga besar, khususnya orang tua dan saudara yang ingin melihat pertumbuhan Dani dan Dika. Love you all..

#12DaysChallengeIndscript

5 komentar:

  1. Senangnya bisa jalan-jalan alias mudik. Memang, selalu ada cerita seru dalam setiap perjalanan. Makanya, saya juga suka banget jalan-jalan.

    BalasHapus
  2. MasyaAllah ga kebayang 14 jam di kapal, seru ya mbak... Kalau jalan-jalan selalu saja ada cerita seru di dalamnya, apalagi saat bulan puasa ya mbak, makin berkesan.

    BalasHapus
  3. Ya ampun mbaaa dari Maluku Utara ke Sumatera Selatan??? Aku sampe baca dua kali, ternyata bener ya, dan luar biasa perjalanannya, seru-seru sedap yaa...

    BalasHapus
  4. Perbedaan waktu 2 jam ke arah Barat, jadi seperti jalan di tempat ya Bun. Coba dibalik, jadi serasa tambah tua 2 jam. Wkwkwk...Btw...aku blm pernah merasakan mudik yg ke Jawa berkendaraan. Dulu Eyangku malah ditarik dr Jawa, tinggal serumah di Jakarta. Saudara ngumpulnya di rumah deh...

    BalasHapus
  5. Asyik sekali yang punya kesempatan mudik, saya tak pernah rasakan mudik hiks.

    Mau mudik kemana? Lah semua keluarga dan orangtua tinggal sekota

    BalasHapus

Bosan Menginap di Hotel, Saatnya Mencoba Apartemen

Sebentar lagi musim liburan, nih. Udah punya rencana mau liburan ke mana tahun ini? Menentukan tempat liburan tidak hanya destinasi wisata...