Selasa, 21 Mei 2019

Ramadan Terakhir Bersama Papa Adalah Ramadanku yang Paling Berkesan Sepanjang Hidup

Setiap Ramadan selalu meninggalkan kenangan tersendiri bagiku. Aku pernah menjalani Ramadan di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari tanah Jawa, pulau Sumatera hinga ke pesisir Maluku Utara. Namun, ada satu Ramadan yang tidak akan pernah terlupakan  bagiku, yaitu Ramadan tahun 2008.

Di awal 2008 aku dan suami memutuskan untuk membuka usaha warung pempek. Lokasinya di Taman Jajan sektor 1.3 Bumi Serpong Damai (BSD). Tidak terlalu jauh dari rumah kami yang di Griya Loka Sektor 1.6 BSD.

Untunglah, keputusan membuka usaha ini didukung oleh keluarga besar, bahkan Papa berencana mau datang untuk melihat warung secara langsung. Aku merasa senang dan menanti kedatangan Papa berkunjung.

Minggu berganti bulan, Papa tak kunjung datang. Ternyata kesehatan Papa terganggu. Badannya terasa lemah, lemas seperti tidak ada tenaga. Mungkin karena Papa tidak ada napsu makan dan merasa mual setiap kali ada makanan yang masuk. Papa memang memiliki penyakit maag. Setidaknya kami beranggapan bahwa itu adalah maag. Oleh karena gejala yang ditunjukkan serupa dengan maag. Sedangkan kepastiannya kami tidak tahu, karena Papa tidak mau diajak ke rumah sakit.

Kesehatan Papa semakin memburuk, hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit di awal Ramadan 2008. Begitu masuk rumah sakit, hal yang sangat mengejutkan kami dengar. Ternyata Papa mengalami pengbengkakan hati. Papa pun meminta aku untuk segera pulang ke Palembang. Dokter mengatakan bahwa hati adalah salah aatu organ yang sangat penting. Jika hati atau lever ini sudah terganggu fungsinya, sangat sulit sekali untuk sembuh. Dokter memprediksi bahwa Papa hanya mampu bertahan selama empat bulan lagi.

Bagai tersambar geledek kami mendengar pernyataan itu. Akan tetapi, dokter berjanji akan melakukam perawatan semaksimal mungkin, agar Papa bisa bertahan lebih lama. Sejak itu kami menjalankan Ramadan di rumah sakit sambil menemani Papa. Kedua adikku yang masih kuliah pun, pulang untuk menemani Papa. Sibungsu yang waktu itu  masih SMU mendadak jadi dewasa karena harus mondar-mandir merawat Papa.

Kami sekeluarga sahur dan berbuka puasa bersama di rumah sakit. Salat pun di kamar Papa dirawat, karena beliau ingin agar kami selalu dalam jarak pandangnya. Walaupun Papa sudah tidak bisa puasa, tapi ia sangat menunggu waktu berbuka ini. Setiap hari ada saja camilan yang ingin ia makan, walaupun tidak pernah habis dimakan.

Sebenarnya tidak banyak aktivitas yang bisa kami lakukan bersama Papa, karena kondisinya sudah sangat lemah. Bahkan untuk berbicara pun, Papa seperti harus berteriak agar suaranya bisa terdengar oleh kami. Sesekali ia minta ditemani nonton siaran bola di televisi. Biasanya suamiku dan adikku Andre yang menemaninya. Lalu ke udian, ia rebahan lagi. Sepertinya untuk duduk agak lama pun, Papa sudah tidak kuat.

Finally, di hari ke limabelas Ramadan 2008 Papa menemui takdirnya. Berbarengan dengan azan Subuh, Papa menghembuskan napas terakhirnya. Ini adalah Ramadan terakhir kami bersama Papa, Ramadan yang paling berkesan sepanjang hidupku. Padahal Papa masih terlihat cukup sehat di Ramadan sebelumnya. Siapa sangka, tahun 2008 adalah Ramadan terakhir Papa. 

Ini adalah peringatan bagi kita untuk tidàk menyia-nyiakan bulan Ramadan.InsyaAllah,kami akan selalu mengingat ajaran Papa untuk menegakan salat dan menjadikan Al-qur'an sebagai tuntunan hidup. Alfatiha untuk Papa, yang telah mengajarkan banyak hal hingga aku bisa seperti ini. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk, Ikut Serta Menjaga Cagar Budaya Indonesia Agar Tidak Musnah

Sekitar pertengahan 2018 yang lalu, saya dapàt tawaran menulis buku yang berjudul "Aku dan Cagar Budaya" bersama dengan 29 penul...