Senin, 31 Oktober 2016

Ketika Kami Harus Pindah Rumah

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang harus mengalami yang namanya pindah. Entah itu hanya pindah rumah ke blok sebelah, pindah kota atau bahkan pindah negara. Sewaktu masih single, saya nggak pernah membayangkan akan tinggal jauh dari orangtua. Saya pikir, saya akan menikah dengan orang satu kota dan menetap di kota yang sama. Ternyata, Tuhan menentukan lain..Betull, saya menikah dengan tema sekota atau sekampung. Tetapi, doi nggak  tinggal di kota kami, dan akhirnya saya yang harus turut  serta ke kotanya.

Saya yang udah kerasan tinggal di kampung, harus beradapatsi dengan luar biasa, saat harus tinggal di keramaian Ibukota Jakarta. Hiruk-pikuk kota dengan beragam karakter penghuninya, sempat membuat saya stress. Namun, lambat-laun saya bisa menyesuaikan diri dengan suasana ibukota. Perbedaan bahasa dan gaya hidup pelan-pelan, bisa saya kuasai. Tanpa terasa, sudah sebelas tahun kami tinggal di ibukota. 

Suatu pagi, saat sedang menikmati sarapan di teras belakang, suami mengutarakan maksudnya untuk pulang kampung. Entah mengapa, ia merasa cukup dengan petualangannya ke penjuru tanah air. Pekerjaannya sebagai seorang Tenaga Ahli Tata Kota, memberinya kesempatan untuk mengenal daerah-daerah pelosok Indonesia. Dari Kota Meulaboh di Aceh, Halmahera Selatan, Bacan, Tolikara di Papua dan kota-kota lainnya. Kearifan budaya lokal yang ditemuinya di kota-kota tersebut, membangkitkan rindunya pada kampung halaman.




Memang selama suami bertugas, saya dan anak-anak stay di Mampang, Jakarta Selatan (selama 2 tahun), kemudian kami pindah ke Bumi Serpong Damai (BSD) di Tangerang Selatan selama hampir sembilan tahun. Ketika pindah rumah dari Mampang ke BSD, adaptasi kami lebih ke masalah financial. Karena ternyata, pengeluaran di BSD jauh lebih besar daripada saat tinggal di Mampang. Sementara penghasilan suami masih nominal yang sama. Saya masih ingat, saat harus berhemat mati-matian untuk bisa bertahan di tahun-tahun awal kami di BSD.

Alhamdulilah, keadaan membaik dan kehidupan kamipun cenderung stabil. Hingga suami mengutarakan maksudnya untuk balik kampung. Saya yang sudah merasa nyaman di BSD, serta-merta menolak keinginan suami. Karier suami yang mapan, bisnis saya pun cukup bagus, sekolah anak-anak terjamin. Apa lagi yang kurang??

Saya nggak habis pikir, dengan keinginan suami. Bahkan sempat menentang keinginannya untuk pindah rumah. Banyak orang yang balik kampung, karena nggak bisa survive di Jakarta. Lhaa, kita udah survive, udah nyaman begini..Mengapa harus pindahh??


Namun, akhirnya saya sadar ada misi rahasia yang ingin dilakukan suami di kampung. Sebuah misi yang mungkin menurut kebanyakan orang, terlalu idealis. Tetapi, sebagai teman terdekatnya, saya percaya dengan ide dan rencana beliau. Maka, kamipun pindah lagi ke luar kota, luar provinsi. 

Perpindahan kali ini, cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan kesehatan saya sempat nge-drop tanpa diketahui orang lain. Fisik saya lelah, pikiran saya lebih lelah. Saya sempat merasa frustasi, dan tidak tau harus melakukan apa. Benturan sana-sini terjadi setiap hari. Saya merasa seperti perahu yang dihempaskan gelombang berkali-kali, hingga tak berbentuk lagi. 


Hanya keyakinan pada Allah, senyuman anak-anak dan support dari suami yang membuat saya bisa bertahan. Pelan tapi pasti, saya udah bisa menulis lagi, menerima job penulisan dan aktif sebagai konsultan training di Indscript. Pelan tapi pasti, saya punya kesibukan baru dan penghasilan baru. Sekarang suami sedang ada kerjaan di Kep. Sula Maluku Utara. Semoga aja, doi nggak kepikiran mengajak kita pindah "lagi" ke sanaa.. Boleh sih kalo cuma liburan doank, tapi kalo untuk menetap, terus terang, saya belum siapp :D

Senin, 10 Oktober 2016

Tips menyetir Jarak jauh Ala Bunda

Pernah nggak sih, bunda mengalami keadaan yang urgent? Misalnya, tiba-tiba harus menjenguk orangtua yang sakit di luar kota. Sementara untuk naik kendaraan umum kondisinya tidak memungkinkan. Mau nggak mau, bunda harus membawa kendaraan sendiri. Sebenarnya menyetir ke luar kota tidak terlalu menakutkan. Apalagi sekarang akses jalan tol udah nyampe ke mana-mana. Bahkan bisa dipastikan jalanan yang bunda lewati enggak akan terlalu sepi. Masih banyak bintang-bintang di langit yang nemanin sampai pagi. Lalu, bagaimana caranya agar menyetir jarak jauh ini bisa tetap nyaman dilakukan? Bunda bisa menyimak beberapa tips berikut ini:

Untuk menyetir jarak jauh, yang pertama harus bunda perhatikan adalah:
1. Kondisi kendaraan yang mau dibawa.
Apakah kendaraan dalam kondisi prima? Kapan terakhir kali service? Bagaimana kondisi ban, mesin dan yang lainnya. Sebaiknya menggunakan kendaraan dengan kaca yang agak gelap, agar orang tidak mengetahui jika pengemudinya adalah wanita.
2. Setelah itu cek kesehatan bunda juga? Apakah cukup fit untuk menyetir sendiri atau tidak. Jika kondisi kurang fit, ajak seseorang untuk menggantikan membawa kendaraan.
3. Cek kelengkapan kendaraan yang mau dipake? Mulai dari surat-menyurat, kotak P3K serta alat-alat standar seperti dongkrak, pompa, ban serep dan lain-lain).
4. Pastikan bahan bakar terisi penuh, ini untuk menghindari sering mampir di pom bensin. Banyak pelaku kejahatan yang mencari mangsa di pom bensin, lalu mengikutinya hingga ke jalanan sepi.



5. Sediakan uang tunai yang cukup dengan pecahan yang bervariasi. Pisahkan uang untuk membayar parkir dan tol, serta uang untuk keperluan di jalan.
6. Beristirahatlah setiap 3 jam di rest area atau restorant. Pilih rest area atau restorant yang tempatnya nyaman dan ramai. Bisa juga memilih untuk beristirahat di masjid.
7. Jika kamu harus menginap di perjalanan, pilihlah hotel yang ramah keluarga. Hati-hati memilih hotel di perjalanan, apalagi jika tempat yang mau dituju bukan tempat wisata.
8. Tidak perlu updated status di sosial media untuk beberapa waktu. Menghindari dari orang-orang iseng yang tidak bertanggungjawab.

See, ternyata menyetir jarak jauh bukanlah hal yang menakutkan. Hanya butuh persiapan yang lebih matang serta sedikit keberanian. Bagaimana, udah berani nyetir dengan jarak yang jauh bukan?

Jumat, 15 Juli 2016

Aku dan Kamera Ponsel






Akhir-akhir ini aku sering banget mengabadikan semua hal yang aku anggap menarik. Bapak-bapak yang baru turun dari perahu, ibu-ibu yang mencuci di bong (kamar mandi apung) di Sungai Musi dan semua aktivitas menarik lainnya. Setiap mau keluar rumah, aku selalu memastikan agar ponsel kameraku tidak ketinggalan. Bukan karena aku sedang menuunggu telepon penting, melainkan karena aku takut kehilangan momen bagus atau unik yang bakal aku temuin di jalan. Yup, aku membutuhkan aplikasi kamera yang ada di ponselku melebihi aplikasi ponsel lainnya. Kegiatanku ini bukan tanpa alasan.


Pertama, aku memang menyukai photography. Aku menikmati saat harus menangkap momen ke dalam lensa kamera, secepat dan senatural mungkin. Walaupun belum pernah belajar photography secara serius, tapi aku mengetahui sedikit trik cara pengambilan gambar yang baik. Namun begitu, aku termasuk pribadi yang tidak suka di photo. Berbeda dengan kebanyakan orang yang suka selfie, aku malah kikuk kalo harus selfie hihi..

Kedua, karena profesiku sebagai penulis, sering banget membutuhkan pendukung berupa photo. Walau sebenarnya bisa saja, aku ambil photo dari google, tetap aku utamakan hasil jepretan sendiri dulu. Kegiatan jepret-jepret ini aku lakukan sambil jalan ke pasar, ngantar anak sekolah dan sebagianya. Pokoknya setiap keluar rumah, aku kudu bawa ponsel kamera. Pernah aku menangis karena kesal, pas ada event BIDAR (lomba perahu naga di Palembang) berlangsung, ponselku kepenuhan memory-nya. Walau udah aku delete beberapa photo dan file lain, tetap saja aku nggak bisa mengabadikan momen itu. Padahal ini merupakan event yang unik. Karena pengalaman ini, aku membutuhkan ponsel kamera yang mumpuni.

Baru-baru ini ada teman yang merekomendasikan Zenfone 2 Laser ZE550KL. Produk terbaru dari Asus ini memiliki tipe jaringan yang terbaru, baik untuk 2G, 3G dan 4G-nya. Dengan pilihan warna yang menarik, dan sudah memiliki pelindung anti gores Corning Gorilla Glass 4. Selain itu untuk penyimpanan data, sudah memiliki memori internal dan eksternal yang cukup besar. Untuk berbagi data, bisa dengan menggunakan USB, bluetooth dan wifi.

Melihat keunggulan-keunggulan Zenfone 2 Laser ZE550KL ini membuatku giat menyisihkan sebagian fee menulisku agar bisa merasakan asyiknya  jepret-jepret dengan kamera ponsel yang keren. Karena ponsel tanpa kamera, bagiku sama dengan sayur tanpa garam..Ahayy




Rabu, 29 Juni 2016

Kisah Selembar Uang Lima Puluh Ribu Rupiah

Sudah hampir enam bulan ini, project Daddy bermasalah. Pencairan uang termyn yang mestinya terjadi awal tahun, hingga kini belum juga terealisasi. Sementara tagihan yang harus dibayar setiap bulannya tidak bisa menunggu. Pendapatan saya dari bisnis online dan nulis artikel tidak cukup untuk meng-cover semua pengeluaran keluarga. Tentu saja, karena biaya hidup di BSD City sama tingginya dengan Jakarta. Bahkan mungkin lebih tinggi, sebab kami tinggal di kompleks perumahan salah satu sektor yang ada di BSD sini.

Seperti awal bulan ini, saya udah membuat list tagihan-tagihan apa saja yang harus dibayar. Alhamdulilah, satu persatu tagihan berhasil dibayar bergantian, saat ada pemasukan dari bisnis online. Hingga saatnya harus bayar cicilan mobil yang nilainya cukup besar. Sementara di dompet saat itu hanya ada selembar uang lima puluh ribu. Otak saya berpikir keras, bagaimana uang lima puluh ribu ini bisa bertahan hingga ada pemasukan dari bisnis online lagi.

Setiap pagi sebelum mengantar anak-anak sekolah, saya selalu menyempatkan diri buat shalat Dhuha. Berdoa dengan khusyuk pada Allah agar diberikan kemudahan rezeki untuk hari ini. Alhamdulilah, ada teman yang pesan pempek untuk acara arisan di rumahnya. Uang lima puluh ribu itu, saya belikan ikan sebagai bahan utama. Untungnya bahan-bahan lain seperti sagu, telur dan minyak masih tersedia di rumah. Keuntungan dari pesanan pempek ini bisa membuat kami bertahan selama beberapa hari.

Tinggal 3 hari lagi, waktunya untuk membayar cicilan mobil. Uang didompet belum bertambah. Segala ihktiar udah dilakukan. Daddy udah mencoba nawarin burung peliharaannya ke teman-teman, mungkin ada yang mau beli. Tetapi, belum ada yang berminat. Saya juga udah gencar apdet status di FB, tapi belum ada yang respon. Padahal harga barang udah didiskon besar-besaran.

Hingga pagi itu sekitar jam 08.00 pagi, salah seorang teman datang ke rumah. Setengah memaksa, ia meminjam uang pada saya. Saya katakan padanya, bahwa uang saya tinggal lima puluh ribu ini saja, sambil memperlihatkan isi dompet. Dia bilang, "Nggak apa-apa, Bu. Saya pake dulu aja uangnya. Ibu kan, ada atm. Insya allah, atm ibu ada yang ngisi, kok.."

Entah mengapa, saya merasa terhipnotis dengan kata-katanya, dan tanpa sadar menarik uang tersebut dari dompet dan memberikannya. Saat ia melangkah keluar rumah dan mengucapkan terima kasih, saya baru menyadari kekeliruan saya. Astaghfirullah al adzhiim, mau makan apa keluarga saya hari ini? Itu satu-satunya uang yang saya miliki. Mengapa saya kasihkan ke orang lain? Tiba-tiba saya merasa marah dan kecewa dengan diri saya sendiri. Hingga akhirnya saya berwudlu dan melaksanakan shalat Dhuha 2 rakaat. Kebetulan hari itu, suami minta ditemani ke kantornya di daerah Pondok Indah.

Pikiran saya masih mengingat kejadian tadi pagi. Tak berapa lama ada pesan masuk di WA saya. Oh, ternyata salah satu konsultan saya mau mengambil barang. Sayangnya, saya udah masuk tol. Akhirnya ia transfer uangnya dulu, sejumlah satu juta untuk keep barang, dan besok baru diambil. Kemudian selang beberapa menit, ada lagi WA dari konsultan-konsultan saya. Semua menanyakan stok barang yang mereka mau. Begitu saya konfirmasi tersedia, mereka langsung transfer. Masya Allah, dalam perjalanan mobil dari BSD ke Pondok Indah, saya closing tiga jutaan.

Padahal tadinya saldo saya nol. Saya sampai meneteskan airmata, karena terharu dengan rezeki dari Allah hari ini. Apakah karena doa si ibu tadi pagi? Saya baru tahu di kemudian hari, bahwa ibu tersebut meminjam uang untuk membeli susu anaknya. Susunya habis, sementara ia tidak memegang uang sama sekali. Inilah keajaiban yang saya alami sendiri. Apakah penyebabnya karena shalat Dhuha atau karena meminjamkan uang pada orang yang sedang kepepet. Hanya Allah yang tahu..Setidaknya ini menjadi pengingat bagi saya dan suami, agar selalu mendekatkan diri pada Allah, baik dikala sedih maupun senang. Karena segala sesuatu yang terjadi pada kami, tentunya sudah atas izin Allah Swt.





Kamis, 26 Mei 2016

Asyiknya Menjadi Blogger KOPI


Sebenarnya aku mengenal blog udah dari lama, sekitar 4 tahun yang lalu. Bahkan sempat berganti-ganti nama blog. Sayangnya, blog tersebut sering terlantar karena aku terlalu konsen di penulisan buku. Alhamdulilah, dalam waktu 2 tahun, aku berhasil nulis 3 buku solo yang diterbitkan oleh penerbit mayor.





Aku kesulitan membagi waktu antara deadline menulis buku dengan jadwal untuk meng-updated blog. Padahal ide tulisan banyak banget yang  berseliweran di kepalaku, yang akhirnya menguap entah kemana..:D
Hingga suatu hari aku melihat postingan Mbak Kiki Handriyani tentang KOPI. KOPI merupakan Koalisi Online Pesona Indonesia. Merupakan koalisi antara para blogger dengan teman-teman jurnalis online. Koalisi ini berdiri pada tanggal 26 November 2015. Dengan adanya koalisi ini diharapkan pesona Indonesia, mulai dari kuliner hingga keindahan alamnya, akan semakin sering ditulis dan di-share ke media. Demikian penjelasan dari inisiator KOPI, Arul Arista.

Koalisi ini mempuanyai Deklarasi, yang disebut Deklarasi KOPI, yaitu:





KOPI mempunyai grup di WA, yang banyak share ilmu dan info-info tentang kegiatan blogger. Ternyata ada banyak keuntungan yang bisa didapat, jika kita rajin nge-blog. Berdasarkan pengalaman dari teman-teman blogger KOPI, Diantaranya adalah
1. Mendapatkan produk atau fasilitas secara gratis.
Aku sering mendengar teman-teman blogger yang mendapatkan gadget secara gratis, nginep di hotel mewah bahkan jalan-jalan ke luar pulau dan luar negeri. Kalo aku sendiri, pernah mendapat voucher medical check-up dari rumah sakit terkenal, voucher belanja, buku-buku dan pulsa. Masih sedikit, sih. Tapi cukup membuatku semangat untuk nge-blog lagi.
2. Memperluas jaringan
Dengan nge-blog, kita jadi mengenal orang-orang baru. Makin lama, jumlah teman kita akan bertambah banyak. Serunya lagi, mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang dosen, pengusaha, wirausaha dan beragam profesi lainnya.
3. Sebagai sumber penghasilan
Untuk yang satu ini, memang tidak mudah, namun udah banyak teman-teman blogger yang mendapatkan penghasilan dari nge-blog. Ada yang mengerjakan artikel pesanan, job review hingga google adsense. Konsisten daam nge-blog akan mempermudah jalan untuk mendapatkan ini semua.
4. Bisa ikut berbagai event seru
Nah, untuk yang satu ini, aku suka banget. Blogger sering sekali mendapat undangan untuk launching film, launching buku dan produk lainnya. Berbagai event seru akan dishare ke para blogger, agar mereka bisa menulis review tentang kegiatan tersebut dan menginfokannya pada masyarakat. Dalam waktu dekat ini, KOPI akan mengadakan event peskop atau Pesta KOPI yang direncanakan pada tanggal 25-27 November 2016 di Jakarta. Acara ini bertepatan dengan hari jadi KOPI yang pertama, yang akan dihadiri oleh KOPIers dari luar Jakarta. Bahkan ada transportasi dan akomodasi bagi peserta luar kota. Berbagai workshop dengan narasumber keren akan mengisi Pesta KOPI. Mau ikutan? Syaratnya gampang, kok. Cukup gabung dengan grup KOPI di WA dan bikin tulisan di blog kamu tentang Keseruan sebagai Blogger KOPI.





Kamis, 19 Mei 2016

Mengulik Bisnis Daycare Rumahan Melalui Training "Seluk Beluk Daycare Rumahan"

Daycare Rumahan adalah Taman Penitipan Anak yang diselenggarakan di rumah pribadi, atau menyewa tempat khusus untuk terselenggaranya kegiatan penitipan anak. Banyaknya tindak kekerasan pada anak yang dilakukan oleh asisten rumah tangga, membuat para ibu bekerja, ketakutan saat harus meninggalkan buah hati mereka di rumah. Akankah anak-anak mereka mendapat perawatan yang benar? Apakah asupan gizi mereka menjadi perhatian sang asisten rumah tangga di rumah? Bagaimana dengan perkembangan motorik anak? Oleh karena itu, para ibu bekerja mulai melirik Daycare yang banyak bermunculan.






Menyikapi situasi ini, Wury Green Kids pemilik Daycare dan penulis buku "Ladang Duit Dari Bisnis Daycare" serta Ummi Aleeya penulis ebook "Rahasia Bisnis Daycare melihat peluang pasar yang sangat bagus bagi bisnis Daycare Rumahan. Mereka berencana akan mengadakan training online mengenai "Seluk Beluk Bisnis Daycare Rumahan" di grup FB mulai 15 Mei 2016. Kedua wanita tersebut memiliki daycare rumahan yang dikelola secara profesional. Mereka memiliki mimpi yang sama,  yakni mengajak lebih banyak kaum ibu peduli pada pendidikan dan perawatan anak usia dini. Hal inilah yang menghantarkan keduanya mengadakan training online tersebut.




Melalui training "Seluk Beluk Bisnis Daycare Rumahan" ini, mereka ingin mengedukasi ibu-ibu untuk membuka bisnis Daycare Rumahan. Selain sebagai peluang bisnis yang menguntungkan, juga sebagai pentuk kepedulian pada masa depan anak. Lalu, apa saja syaratnya untuk mengikuti training ini? Jika Anda adalah seorang ibu yang memiliki space di rumah, cinta anak, penyabar dan memiliki jiwa enterpreneurship, maka Anda cocok untuk mengikuti training ini. Dengan mengikuti step by step dari mereka berdua beserta kegigihan serta niat baik Anda, Insya Allah Anda akan bisa membuka bisnis Daycare Rumahan yang berkualitas dan amanah. Sehingga makin banyak anak-anak yang mendapat haknya untuk diperhatikan dan diperlakukan dengan limpahan kasih sayang. Tertarik untuk mengikuti trainingnya? 

Kamis, 28 April 2016

Tes

Setelah kemarin-kemarin nge-blog pake wordpress, kali ini Bun mencoba menggunakan blogspot. Semoga bisa lebih rajin nge-blog-nya..Aminn :)

Yuk, Ikut Serta Menjaga Cagar Budaya Indonesia Agar Tidak Musnah

Sekitar pertengahan 2018 yang lalu, saya dapàt tawaran menulis buku yang berjudul "Aku dan Cagar Budaya" bersama dengan 29 penul...