Selasa, 31 Maret 2020

Distrik Kelila, Tanah Papua yang Ingin Kudatangi

Pemukiman honai  penduduk Kelila
Credit: dokpri

Suatu hari di tahun 2007, Bun mendapat notif postingan facebook dari Daddy. Postingan tersebut nge-tag Bun, hingga mengusik rasa ingin tahu konten apa yang dipost Daddy saat itu. 

Ternyata Daddy mem-post sebuah foto yang sangat indah. Foto tersebut menampilkan pemandangan kawasan pemukiman penduduk asli Papua yang asri, damai, dan hijau. 

Foto tersebut Daddy ambil di salah satu kampung di Distrik Kelila, yang berada di pegunungan tengah Papua. Terletak di ketinggian 1.100 m.dpl membuat suhu udara di Kelila sangat dingin. 

Distrik Kelila ini berada di Kabupaten Mamberamo Tengah, yang dapat ditempuh dengan perjalanan mobil sekitar 4 jam dari Wamena. Kendaraan yang bisa mencapai tempat itu adalah mobil jenis double cabin, setidaknya waktu itu, saat Daddy tugas di sana. Kontur jalanan yang off road membutuhkan keahlian sopir untuk membawa mobil agar bisa melewati rute Wamena-Kelila. 

Transpot Udara untuk menjangkau daerah di balik gunung
Credit: dokpri


Mengapa Bun jatuh hati dengan Kelila dan Papua? 
Mengapa bukan pada keindahan laut Raja Ampat yang terkenal itu, atau pada jajaran hutan Papua yang masih alami? Sesungguhnya Bun juga terpesona dengan keindahan Raja Ampat dan hutan Papua. Akan tetapi, waktu tinggàl di Maluku Utara, Bun sudàh puas menikmati keindahan pantai Maluku, yang 11-12 dengan Raja Ampat. Begitupun dengan hutannya. Lalu, apa yang menjadi daya tarik Distrik Kelila ini? 
Perkampungan honai di Kelila
Credit: dokpri


Tak lain adalah karena barisan rumah-rumah penduduk asli Papua yang tertata rapi di salah satu sudut Distrik Kelila. Yup, rumah asli Papua atau Honai ini sangat menarik perhatian Bun. Seperti penggalan lagu dari God Bless..

Hanya honai kayu
Tempat tinggal kitaaa..
Tanpa hiasan
Tanpa lukisan...
Beratap jerami
Beralaskan tanah 
Namun semua inii..
Milik kitaa
Lebih baik di sini rumah kita sendiri

Penggalan lagu di atas sangat cocok dengan kondisi tanah air kita sekarang. Di mana karena pandemi corona, kita diharuskan untuk diam #dirumahsaja. Tujuannya tak lain untuk memutus rantai penyebaran virus covod-19 agar tidak lebih meluas lagi. 

Kembali ke laptop, eh ke honai...
Seperti halnya rumah adat dari daerah Indonesia yang lain, honai juga perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Honai merupakan salah satu keariban budaya lokal yang bisa dijadikan daya tarik wisata. Ada sekitar 500 kepala keluarga yang ada di Distrik Kelila. 

Menurut Daddy, kampung pemukiman honai ini tetap dipertahankan oleh kaum misionaris. Distrik Kelila ini dikenal juga sebagai  kampung kristus. Sesuai dengan plank yang berdiri tegak  di pintu masuk kampung. 

Sayangnya, pemerintah mulai mengkampanyekan rumah tinggal yang sehat versi pemerintah. Rumah permanen berbentuk persegi dengan jendela sebagai ventilasi udara dan sarana MCK. 

Salah satu NGO yang peduli terhadap perkembangan Papua adalah EcoNusa . Lembaga non profit yang berdiri tahun 2017 ini diprakarsai oleh Bustar Maitar, pemuda Papua yang lahir dan besar di Papua.  





#BeradatJagaHutan 
#PapuaBerdaya 
#PapuaDestinasiHijau 
#EcoNusaXBPN 
#BlogCompetitionSeries pada caption.



Senin, 23 Maret 2020

Nikmati Sensasi Mandi Parfum Bersàma Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash


Tiga variant Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash
Dokpri

Hari ini Bun nggak ada rencana keluar rumah. Maklum, sejak pemerintah menetapkan pandemik corona, dan diberlakukannya social distancing, masyarakat dihimbau untuk mengurangi aktivitas ke luar rumah. Anak-anak sekolah diliburkan, para pekerja kantoran dianjurkan bekerja secara daring. What a good idea, sebenarnya.

Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk Daddy, yang bekerja di lapangan. Bayangkan, sebagai seseorang  yang bertanggungjawab terhadap pembangunan 400 unit rumah, hal ini tentu tidak berlaku. Oke-lah, koordinasi dengan kepala tukang bisa dilakukan via telpon, pemesanan material juga bisa dilakuan by phone, tapi pengecekan progres pekerjaan untuk pencairan, tidak bisa dilakukan hanya lewat foto WA atau IG story, Maks 😀

Salah satu blok yang sedang dibangun
Dokpri

Belum lagi komunikasi dengan tukang-tukang yang dari berbagai daerah ini. Kudu ada intouch personal biar mereka "nurut" dengan komando. Misalnya, mereka diberi keleluasaan untuk ngobrol langsung ke kita tentang bahan-bahan yang mereka perlukan, tanpa melalui boss-nya. Seperti hari ini, ada yang minta 5 set kusen pintu dan jendela. Ada juga yang minta pasir sebanyak 6 dump truck dan semen 100 zàk. Kebetulan, hari ini Daddy lagi ada urusan ke luar kota.  Terpaksa, Bun yang ambil alih. Sebagai mantan anak teknik sipil yang sering merangkap sebagai asisten Daddy, Bun pun menerima pesanan tukang-tukang tersebut. Singkat cerita, pesanan pun datang. Dan dilakukan pengecekan oleh staf logistik. 

Ternyata eh ternyata, kusen pintu yang dikirim salah, guys. Tukang membutuhkan kusen pintu yang menghadap ke arah barat, sedangkan yang datang adalah kusen pintu yang menghadap ke timur. What a big problem... Untungnya, baru satu unit kusen pintu yang diturunkan dari mobil. Kalo nggak, kebayang aja repotnya naikin kusen pintu segede gaban ke mobil.

Kusen pintu yang salah kirim
Dokpri

Baru lega sedikit, dapat laporan dari tukang kalo mesin press batako ngadat. Udah di utak-atik masih nggak bener juga. Menurut tukang, masalahnya di alat cetaknya. Hasil cetakan batako selalu rusak, dan tidak bisa dipakai. Setelah telpon sana-sini, akhirnya diputuskan memasok batako dari luar. Minimal 1000 batako harus masuk dulu hari ini, agar pengerjaan unit tidak terbengkalai. Alhamdulillah, masalah kelar dan Bun bisa pulang ke rumah.

Dika yang selalu nemanin Bun
Dokpri


Badan terasa lengket oleh keringat plus kepala yang agak berdenyut karena kejadian hari ini cukup memicu adrenalin. Mm, rasanya segar sekali kalo membersihkan badan dulu. Apalagi kemarin dapat kiriman Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash dari teman.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash
Dokpri

Vitalis
Selama ini kita mengenal Vitalis sebagai sebuah brand parfum. Nah, sekarang Vitalis melakukan inovasi dengan memadukan keahlian sebagai produsen parfum ke dalam sabun cair. Maka, terciptalah Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash. Dengan wangi parfum yang mewah membuat sensasi mandi parfum menjadi menyenangkan. 

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash hadir dengan tiga pilihan aroma, yaitu: 
1. White Glow
Variant ini mengandung aroma buah perpaduan dari manisnya cherry & raspberry. Disusul dengan wanginya marshmallow & gardenia yang lembut dan elegan, dibalut dengan glamor-nya woody dan suede yang long lasting. Variant ini juga dilengkapi dengan kandungan licorice dan susu yang membantu mencerahkan kulit (Skin brightening).

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash White Glow...
It's my favorite
Dokpri

2. Fresh Dazzle 
Parfum variant ini diawali dengan segarnya wangi bergamot, diikuti floral bouquet yang wanginya elegan dan feminim, dan ditutup dengan wangi musk amber yang long lasting. Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle ini juga diperkaya dengan kandungan Jeruk Yuzu dan Teh Hijau sebagai skin refreshing yang memberikan kesegaran saat mandi dan membuat mood lebih baik.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle
Kesukaan Daddy
Dokpri

3. Soft Beauty
Nah, variant yang ini dibuka dengan wangi segar dari fruity aldehydic, yang dilanjutkan dengan wangi rose dan violet, dan diakhiri dengan tonka bean & sandalwood yang manisnya premium. Diperkaya juga dengan ekstrak avocado dan vitamin E yang akan menutrisi kulit dan menjaganya agar tetap lembab (Skin nourishing).

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty
Dokpri


Ketiganya menggunakan kemasan botol yang mewah dan mudah dibuka. Bahkan, anak-anak pun tidak memerlukan bantuan orang dewasa untuk membukanya. Ini agak memprihatinkan sebenarnya, secara anak-anak adalah pengguna sabun yang paling boros, hehehe... 

Hari pertama, Bun nyoba yang Fresh Dazzle. Mm, wanginya enak banget, terkesan tegas dan berkarisma. Sepertinya cocok untuk Daddy. Betul saja, Daddy langsung suka dengan wangi yang hijau ini.

Hari kedua Bun nyoba yang si pinky, dan aromanya yang menenangkan kayaknya cocok banget dengan yang Bun butuhkan. Yaitu sebagai relaksasi.

Hari ketiga, nyobain yang ungu. Mm, wanginya enak dan Bun suka fungsinya yang mencerahkan kulit.

Jadi kalo ditanya suka yang mana? Semuanyaa... Karena setiap hari kondisi kita berbeda dan Vitalis Body Wash memiliki kemewahan yang berbeda untuk memanjakan kita setiap harinya. Kalo kamu, suka yang mana? 

*Vitalis, Ignite Your Charm, Be A Star*

Selasa, 18 Februari 2020

Hutan Sagu Sebagai Sumber Pangan Masyarakat Maluku Utara


Aku dan Dika di tepi pantai Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara
Sumber: dokpri



Pertama kali kami menginjakan kaki di Kepulauan Sula, Maluku Utara àdalah pertengahan Februari 2017 silam. Daddy membawa kami orientasi wilayah tempat tinggal kami di sana, dan mengajak kami menemui sahabatnya, seorang nelayan penduduk asli pesisir Maluku Utara. 

Namanya Pak Zainal, usianya sekitar 50-an. Sosoknya besar tinggi, khas orang Maluku. Pembawaannya sangat bersahaja, dengan tutur bahasa yang sopan dan senyum yang selalu mengembang di bibir. Dengan kulit yang gelap karena terbakar matahari. Pertama kali bertatap muka dan berbincang dengan beliau, saya merasa dejavu. Seakan-akan pernah melihat sosok serupa. Yup, sosok Pak Zainal sangat mirip dengan tokoh Ayah Lintang yang digambarkan Andre Hirata dalam Laskar Pelangi. 

Sosok Pak Zainal, aktivitasnya di seputaran pantai Wai Ipa
Sumber: dokpri


Sehari-hari, Pak Zainal bekerja sebagai nelayan. Setiap fajar menyingsing, sehabis Subuh, ia akan melaut mencari ikan. Dengan perahu kecilnya, ia akan mendayung mengarungi laut Wai Ipa, Kepulauan Sula Maluku Utara. Karena jangkauan perahu yang terbatas, maka hasil yang didapat Pak Zainal pun terbatas. Terkadang hanya cukup untuk lauk makan sehari-hari. Namun, jika sedang beruntung, ikan yang diperoleh cukup banyak dan bisa dijual. 

Pak Zainal dan teman-temannya melaut dan mencari sagu
Sumber: dokpri

Ikan-ikan segar ini akan dimasak kuah kuning dengan citarasa yang segar, mirip dengan kuah asam dan pedas. Disajikan dengan papeda yang diolah dari tepung sagu, dan gulai sayur pakis. Pertama kali ditawari makan papeda, saya agak meringis. Bagaimana bisa, saya menelan makanan yang seperti lem itu? Akan tetapi, tidak lengkap rasanya jika tinggal di Maluku tapi tidak pernah makan papeda. Maka, saya pun memberanikan diri untuk mencoba. Apalagi Pak Zainal meyakinkan saya tentang manfaat papeda bagi indera pencernaan saya. 

Papeda pertama saya 😀
Sumber: dokpri

Mama Ina yang mengambilkan pepeda pertama kali untuk saya. Dengan menggunakan dua buah kayu seperti sumpit yang panjang, papeda di gulung-gulung sampai bisa diangkat ke piring. Lalu, Mama Ina menyiramkan kuah ikan kuning plus potongan kepala ikan kerapu. Woow, liur saya menetes saat melihat kepala ikan kerapu itu, guyss. Orang-orang Maluku memakan papeda dengan menggunakan tangan. Caranya papeda dicubit dan langsung disuap ke mulut. Saya agak parno harus mencelupkan tangan ke dalam papeda yang tergenang kuah ikan. 

Dika pun lahab makan papeda. Dia emang pemakan segala hehehe..
Sumber: dokpri

Oleh karena itu, saya memilih menggunakan sendok. Dann, mulai memakannya tak ubahnya makan bubur ayam. Ternyataa, rasanya enak sekali. Papeda yang tawar, dicampur kuah ikan yang gurih dan sedikit pedas, plus gulai daun pakis ini tercampur dengan harmoni yang nikmat sekali. Saya tidak pernah menyangka bahwa papeda akan seenak ini. Papeda yang didapat dari hutan sagu di dekat pantai, dan sayuran pakis yang bisa dipetik sepuasnya di tepi hutan. Semua bahan-bahan ini mereka dapatkan dari hutan. Hutan sumber pangan, masih berlaku di sini. Setidaknya saat itu, saat kami masih menetap di sana. 

Masyarakat yang mencari pohon sàgu di hutan bersama Daddy
Sumber: dokpri

Ada yang belum tahu papeda?
Papeda merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur yang terbuat dari tepung sagu. Baik untuk konsumsi sehari-hari, maupun untuk acara-acara istimewa. Setiap ada acara adat, baik pernikahan maupun kematian, papeda merupakan hidangan utama. Porsi yang disiapkan untuk para tamu, bahkan jauh lebih banyak dari pada nasi. Para tetua kampung, pemuka adat, pemuka agama selalu memilih papeda sebagai santapannya. 

Sajian papeda saat kami berkunjung ke salah satu daerah
Sumber: dokpri

Cara Membuat Papeda
Cara membuatnya pun cukup mudah, hanya butuh kecepatan dan kekuatan tangan untuk mengaduk larutan tepung sagu dalam tempo singkat. 
1. Tepung sagu yang ada dilarutkan terlebih dahulu dengan air dingin, kemudian disaring untuk memisahkan kotorannya. 
2. Larutan sagu tadi disiram dengan air mendidih, sambil diaduk dengan cepat sampai warna sagu berubah agàk keruh dan kental. 
3. Tambahkan perasan jeruk nipis agar warna papeda mengkilat dan bagus. Ini tips dari Om Ajie, nyong Ambon tetangga kami di wai ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara. 
4. Perubahan warna ini menandakan sagu sudah berubah menjadi papeda, dan siap disantap. 

Aseli, papeda ini dan ikannya saya yang bikin, loh 😍
Sumber: dokpri 


Sepanjang 2016-2018, kami sekeluarga berkesempatan untuk menetap di Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Sula. Hampir setiap hari kami menyantap papeda. Saya yang mempunyai riwayat penyakit maag, ternyata merasa nyaman menyantap papeda. Kandungan gizi pada sagu sebagai bahan utama papeda pun, cukup untuk menenuhi standar gizi masyarakat Indonesia. 


Papeda ini saya campur dengan konro, permintaan Daddy saat nggak enak badan
Sumber: dokpri

Proses pengolahan sagu
Proses pengolahan batang sagu menjadi tepung yang bisa diolah menjadi bahan pangan sangatlah panjang. Oleh karena itu, mereka bekerja secara berkelompok. Setelah pulang mengail (memancing ikan di laut) dan istirahat sejenak, Pak Zainal dan beberapa nelayan lain mengayuh perahu ke arah lain. Kali ini yang mereka tuju adalah hutan sagu. Mereka akan mencari pohon sagu yang sudah siap dipanen, minimal usia pohon sudah mencapai lima tahun. Semakin besar diameter pohon, maka semakin bagus kualitas sagu yang akan didapat. Pengerjaan memanen sagu ini lumayan panjang prosesnya. Oleh karena itu, mereka bekerja berkelompok. 

Pohon sagu dipotong-potong sesuai kebutuhan
Sumber: dokpri

Setelah menemukan pohon sagu yang cukup besar, mereka akan melakukan penebangan pohon sagu. Lalu, pohon sagu akan dipotong-potong, kemudian diparut dengan menggunakan mesin sederhana. 

Potongan ini siap diparut menggunakan mesin
Sumber: dokpri

Hasil parutan disiram dengan air beberapa kali sampai ampasnya tidak mengeluarkan pati lagi. Pati sagu yang turun bersama air akan mengendap. Endapan inilah yang merupakan tepung sagu yang nantinya diolah menjadi papeda dan makanan lainnya. 

Hasil parutan sagu yang akan diambil pati-nya.
Sumber: dokpri


Tepung sagu dijual per-tumang atau sekitar 20 kg. Ada juga yang dijual eceran berbentuk bola sagu. Kami biasanya membeli yang berbentuk bola sagu. Tiga bola sagu ini lebih dari cukup untuk makan kami bertiga, saya, Daddy dan Dika. Sedangkan Dani lebih memilih untuk makan nasi saja. 


Tepung sagu yang saya beli di pasar udah berbentuk bola sagu seperti ini
Sumber: dokpri

Hutan sagu
Sebagai sebuah negara yang memiliki letak geografis strategis, Indonesia memiliki tutupan hutan yang masih rapat, dengan luasnya yang mencapai 82, 5 juta hektar. Hal ini membuat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, termasuk salah satunya adalah hutan sagu. 

Sebanyak 55% pohon sagu dunia berada di Indonesia, dengan luas mencapai 1,5 juta hektar. Tersebar di wilayah Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, Jambi, Mentawai di Sumatera Barat, dan kepulauan Riau. 

Sagu atau Metroxylon sagu Rotb mempunyai banyak sekali manfaat. Semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. Daunnya dijadikan atap rumah, pelepahnyà sebagai dinding rumah, batangnya diambil sari patinya, bahkan ampasnya pun bisa dimnàfaatkan sebagai kompos. 

Pohon sagu  atau Metroxylon sagu Rottb, memiliki bentuk menyerupai pohon palma. 
Pohon sagu tumbuh di daerah rawa, dengan kadar air yang tinggi.ya pohon sagu tumbuh di tepian sungai atau wilayah dengan kadar air yang cukup tinggi seperti rawa. Tingginya bisa mencapai 30 meter, sehingga Pak Zainal dan teman-teman dapat menghasilkan 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu. Selain untuk persediaan sendiri, tepung sagu ini juga mereka jual ke pasar. 


Ayoo, lestarikan pohon sagu 

Pemanfaatan area sagu di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut data yang berhasil saya temukan, pemanfaatan ini hanya sekitar  0,1% dari total area sagu nasional. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti: 
-  Kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu, karena keterbatasan produksi dan kurangnya pengetahuan tentang sagu. 
-      Kemampuan produksi tepung sagu yang masih rendah.
-  Rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi produk lanjutannya.
-  Kondisi geografis yang cukup sulit, karena sagu biasa tumbuh pada daerah rawa yang cukup jauh. 

Hutan sagu
Sumber: dokpri


Ada banyak alasan mengapa sagu perlu dilestarikan, di antaranya adalah sebagai berikut: 
-  Sagu memiliki kadar karbohidrat cukup tinggi, namun rendah gula dan lemak sehingga sangat cocok bagi penderita diabetes.
-  Sangat cocok sebagai bahan pangan, kandungan karbohidrat yang terdapat pada pati sagu serta kalori yang cukup tinggi. Sehingga dijadikan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur.
-  Beberapa penelitian bahkan menemukan kalau sagu bisa diolah menjadi bahan baku industri kosmetik, kertas, bioetanol, pengbungkus kapsul, dan kemasan makanan yang biodegradable. 
-  Dengan adanya sagu, bisa ikut menjaga kestabilan pangan negara. 
- Tanaman sagu juga mampu menyerap air, sehingga cocok dijadikan tanaman penahan banjir. 
- Sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia Timur seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, dan NTT. 



Yup, sagu masih merupakan primadona makanan pokok masyarakat Maluku Utara. Begitu juga dengan saudara-saudara mereka di Maluku, Papua, dàn Nusa Tenggara. Sayangnya, makin lama popularitas sagu mulai terkalahkan oleh beras. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 
1. Berkurangnya luas hutan sagu
Terjadinya alih fungsi hutan sagu di berbagai daerah. Baik untuk pembangunan infrastruktur, perkebunan pangan, dan lainnya. Ini membuat berkurangnya hutan sagu yang ada. Masyarakat yang mempunyai tanaman sagu, banyak yang beralih ke tanaman lain. Sagu dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi. 

2. Kurangnya tenaga pekerja sagu
Membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit, untuk menemukan batang sagu yang bagus, dan mengolahnya menjadi tepung sagu siap pakai. Banyak generasi muda yang tidak tertarik menjadi pekerja sagu. Sepanjang kami tinggàl di Maluku Utara, hanya laki-laki dewasa yang pergi mencari sagu. 

3. Pergeseran gaya hidup masyarakat
Ada perubahan gaya hidup pada masyarakat Maluku Utara. Nasi dipercaya sebagai bahan makanan mewah yang membuat strata hidup masyarakat menjadi naik. Mereka percaya jika masyarakat yang makan nasi adalah golongan masyarakat menengah ke atas atau masyarakat mampu. 

Jika hal ini dibiarkan terus menerus, ada kekhawatiran terhadap keberadaan hutan sagu di Indonesia. Ada kemungkinan tepung sagu akan sulit ditemukan, dan kita akan kehilangan satu bahan pangan terbaik untuk membuat papeda. Jika pohon sagu tidak ada, maka tepung sagu akan sulit ditemukan, yang akhirnya berdampak pada harga jual yang mahal. Sedangkan tepung sagu masih digunakan masyarakat di Indonesia Timur sebagai bahan pangan untuk papeda. 

Jangan sampai hutan sagu yang ada sekarang menjadi Rimba Terakhir yang dikenal anak cucu kita, seperti kampanye WALHI agar kita menyelamatkan hutan sebagai sumber pangan. Bersama pemerintah dan masyarakat setempat, mari kita membangkitkan kembali nilai-nilai budaya lokal tentang pelestarian hutan sagu, penanaman kembali pohon sagu dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pengelolaan hutan, agar anak cucu kita bisa merasakan hutan sumber pangan Indonesia.

Mari selamatkan Rimba Terakhir bersama WALHI
Sumber: walhi.co.id

WALHI dan aktivitasnya
WALHI adalah lembaga non profit terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang isu-isu lingkungan hidup. NGO yang berdiri atas prakrasa Erna Witoelar ini berdiri pada tanggal 15 Oktober 1980. Saat ini perwakilan WALHI tersebar di 28 provinsi Indonesia. Dengan menggaet tokoh-tokoh masyarakat, artis, pengusaha, dan individu lainnya, WALHI terus mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup terhadap masyarakat. Bahkan, WALHI mendapat mendapat peran di masyarakat dengan ikut serta dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Lingkungan Hidup di DPR. Pada tahun 1982 bersama dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya, WALHI membahas Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Undang-undang No.4 Tahun 1982), yang kemudian diadopsi dalam pasal 6. 

Selanjutnya pada tanggal  27 Oktober  1983 didirikan lembaga pendanaan program lingkungan hidup dengan nama Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML). WALHI menerima donasi dari institusi maupun perorangan untuk kampanye yang mereka lakukan. 
Nur Hidayati, direktur WALHI
Sumber: walhi.co.id

Oh ya, saat debat pilpres tahun 2019 yang lalu, WALHI melalui direkturnya, Nur Hidayati atau yang akrab dipanggil Yayah ini, menjadi salah satu panelis saat debat, loh. Jadi, beliau menanyakan kebijakan-kebijakan apa yang akan dilakukan presiden terpilih nantinya, terkait isu lingkungan hidup di Indonesia. Kerenn, yaa 

Selamat tinggal Wai Ipa...Selamat tinggal Sula..
Menjelang kepulangan kami dari Maluku Utara, Pak Zainal menderita sakit dan akhirnya meninggal. Alfatiha untuk beliau... Kami sekeluarga sangat kehilangan. Beliau yang biasa menemani Dani melihat karang, menemani Dika berenang, dan sering menemani kami mengobrol di tepi pantai. 
Pak Zainal habis nemani Dani ngeliat karang


Tidak ada lagi bapak pencari sagu yang sering bercerita banyak hal. Keluarganya pun tidak ada yang melanjutkan tugas Pak Zainal mencari sagu. Jika mereka ingin makan papeda, Mama Ina tinggàl ke pasar untuk membeli bola sagu. Itupun hanya secukupnya saja. Anak-anaknya lebih menyukai nasi. Jika harga beras sedang mahal, barulah mereka beralih ke sagu lagi. Sagu yang dulu banyak tumbuh di hutan, sekarang jumlahnya makin sedikit. Entah sampai kapan, pohon sagu masih tumbuh di hutan Wai Ipa, Kepulauan Sula, Maluku Utara.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Forest Cuisine Blog Competition bersama WALHI dan Blogger Perempuan




#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Referensi data: 
https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/sagu-makanan-pokok-andalan-orang-maluku
http://fwi.or.id/publikasi/hasil-hutan-yang-diabaikan-sagu-nasibmu-kini/
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/87192/Kandungan-Gizi-Tepung-Sagu/
http://infopublik.id/kategori/nusantara/355492/pohon-sagu-dan-identitas-orang-maluku

Senin, 20 Januari 2020

QR Code Sebagai Alat Pembayaran Milenial

Sumber: https://www.sureplus.id

Pertengahan Juni 2018..
Kami sekeluarga baru mendarat di Soeta setelah melakukan penerbangan selama 3 jam dari Ambon. Perbedaan waktu Jakarta yang lebih cepat dua jam dibanding ambon, membuat anak-anak mengalami jetlag. Sibungsu Dika merasa mual dan pengen makan something yang nggak terlalu berat, tapi cukup segar di mulut.

Saya berinisiatif mampir ke sebuah coffe shop bandara yang menyediakan aneka minuman hangat dan pastry. Kemudian, memesan satu ekspresso untuk suami, coklat panas untuk Dika dan Dani, lalu sebuah sandwich ukuran jumbo yang dipotong empat. Lumayan, bisa untuk menghemat hihi..

Sumber: Pexels.com

Setelah membayar pesanan, saya mengambil tempat duduk untuk menunggu pesanan sambil melihat pelayan yang cekatan menyiapkan pesanan. Mm, enak juga punya cafe begini, ya. Eh, saya jadi menghayal. Hahaha..

Tetiba, ada remaja putri yang tertarik juga dengan menu cafe ini. Setelah memilih paket minuman dan  favorit-nya, dia mengarahkan gawai-nya dan men-scan barcode yang ada di struk. Whatt? Dengan santuy-nya dia melakukan pembayaran, hanya dengan bermodalkan gawai yang ada di genggaman.

Saya nggak tahan untuk tidak bertanya pada mas pelayan di cafe, saat beliau menyerahkan pesanan saya.

Sumber: Pexels.com

"Mm, sekarang udah bisa bayar pake barcode ya, Mas?" Ketauan udiknya saya. Hahaha...
"Iya, Bu. Udah bisa sekarang, mah.
"Oh, hebatlah. Makin praktis, ya

" Ya, Bu. Jadi, kalo jalan kita nggak perlu bawa uang lagi. Bahkan bawa kartu atm juga udah nggak perlu". Si Mas ngejelasin dengan semangat.
"Mm..Tapi kita tetap kudu ngisi ATM-nya, kan? Kalo nggak, gimana bisa barcode-nya ada saldo." Canda saya.

"Iyaa, sih. Tetap harus kerja keras biar barcode bisa dipakai untuk bayar-bayar".

Sumber: Pexels.com

Apa sih QR Code
QR Code adalah salah satu jenis kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, dari divisi Denso Corporation, sebuah perusahaan dari Jepang. Kode QR ini dipublikasikan pertama kali tahun 1994. 

Fungsi utamanya saat itu adalah menyampaikan informasi dengan cepat. Sesuai dengan namanya QR yang artinya quick response. Kode QR memiliki kemampuan untuk menyimpan informasi secara vertikal dan horizontal, berbeda dengan kode batang pada umumnya yang hanya menyimpan informasi secara horizontal. Kode QR telah mendapatkan standarisasi internasional dan standarisasi dari Jepang melalui ISO/IEC 18004 dan JIS-X-0510.

Kemajuan teknologi informasi saat ini, membuat perubahan lifestyle pada sistem pembayaran di masyarakat. Jika selama ini, kita sudah cukup di udahkan dengan pembayaran via debit card atau credit card, sekarang dengan adanya QR code, kedua kartu tersebut tidak diperlukan lagi. Sistem pembayaran ini disebut QR Payment.

Mengenal QR Payment
QR payment adalah sistem pembayaran dengan menggunakan barcode atau QR Code sebagai alat pembayaran. QR Code akan discan setiap melakukan transaksi pembayaran. Untuk melakukan transaksi pembayaran, kita membutuhkan koneksi internet untuk men-scan QR Code yang tertera di merchant. 


Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia sudah menetapkan standarisasi pembayaran berbasis QR Code. Standarisasi ini disebut dengan QR Standar Indonesia. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa QRSI merupakan standar alat pembayaranyang dikembangkan oleh pelaku industri perbankan. Ke depannya nanti, QRSI ini akan menjadi pedoman untuk menyediakan pembayaran berbasis QR Code. Cara kerjanya tetap harus menggunakan EDC (electronic data capture) , yang akan mengeluarkan struk total belanja dan QR Code. Kemudian, QR Code ini di scan oleh ponsel pintar sebagai alat pembayaran. Hingga saat ini, sudah terdapat 19 bank dan 68 merchant di Indonesia, yang telah terhubung dengan QRSI.

Teman-teman yang biasa menggunakan transportasi online tentu sudah biasa dengan sistem pembayaran QR Code ini. Yup, Go-Jek sudah menerapkannya melalui fitur Go-Pay yang terbukti cukup berhasil di masyarakat. Disusul oleh 4 bank besar di Indonesia, yang meluncurkan aplikasi dompet digital dengan sistem QR Payment. Mereka adalah BNI dengan YAPP!, BCA dengan QR-ku, BRI dengan MY QR, Mandiri dengan Mandiri Pay.

Bank Indonesia telah menerima pengajuan dari perusahaan-perusahaan yang ingin menggunakan QR Code sebagai sistem pembayaran mereka. Pada dasarnya Bank Indonesia akan menyetujui permohonan tersebut, asalkan memenuhi persyaratan sesuai standar QRSI. 

Persyaratan ini penting karena menyangkut keamanan dana konsumen. QR Code payment ini membuat masyarakat tidak perlu membawa kartu debit atau uang tunai sekalipun. QRSI membuat saldo rekening kita terkoneksi dengan ponsel pintar. Sehinggà, sisgem keamanannya harus dipastikan terhubung dengan GPN (Gerbang Pembayaran Nasional).


Kelebihan dan kekurangan QR Code Payment
Kemajuan teknologi bagaikan dua sisi pisau bagi peradapan manusia. Di satu sisi, kemudahan QR Code Payment ini membuat proses transaksi menjadi lebih mudah. Jik kita lupa membawa dompet, atau lupa membawa uang tunai, selama ada saldo di ponsel pintar, maka transaksi tetap bisa berjalan. 

Akan tetapi, dibalik segala kemudahan itu, ada hal yang harus diperhatikan. Yaitu sifat konsumtif masyarakat. Nah, teman-teman yang menggunakan QR Code Payment sebagai alat pembayaran zaman milenial ini, sebaiknya bisa menggunakannya dengan bijaksana, ya

#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk

Referensi:
https://www.suara.com/bisnis/2019/03/21/202231/bi-uji-coba-standarisasi-alat-pembayaran-berbasis-qr-code
https://www.suara.com/bisnis/2019/05/27/125301/bi-luncurkan-pedoman-alat-pembayaran-berbasis-qr-code
https://www.cermati.com/artikel/ketahui-4-aplikasi-qr-code-payment-milik-4-bank-besar-indonesia-ini

Minggu, 12 Januari 2020

Liputan Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung 2020

What do you about "wisuda"? 

Sebuah kata keramat yang sangat akrab di kalangan mahasiswa dan mahasiswi. Bisa jadi, wisuda merupakan hal yang paling ditunggu oleh mereka. Setelah bersusah payah mengikuti semua mata kuliah, mengerjakan tugas-tugas, dan menyelesaikan skripsi, hal berikutnya yang dinanti adalah prosesi wisuda. 

Duapuluh tahun yang lalu, saya beruntung bisa merasakan kegembiraan wisuda. Membawa orang tua menginjak kampus tempat kuliah selama ini, dan ikut dalam kekhusyuan acara wisuda

Perasaan haru, bahagia, dan bangga bercampur menjadi satu. Bangga karena sebagai anak kampung, saya telah berhasil menyelesaikan kuliah. Bahagia melihat senyum orang tua yang bangga telah mengantarkan anaknya menjadi seorang sarjana.

Venue acara
Sumber: Pasukan Blogger Joeragan Artikel


Begitupun yang dirasakan adik-adik STT Bandung kemarin. Salah satu kampus terkemuka di Bandung ini berhasil meluluskan ratusan mahasiswanya awal tahun ini. Saya berkesempatan  melakukan liputan secara online wisuda ini, bisa merasakan aura bahagia wisudawan dari tayangan live di IG @sttbandung. Sebanyak 209 wisudawan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung mengikuti acar wisuda Sabtu, 11 Januari 2020. 

Mereka terdiri dari beberapa prodi, yaitu:
- Teknik Industri, sebanyak 113 orang
- Teknik Informatika, sebanyak 70 orang
- Desain Komunikasi Visual, sebanyak 26 orang

Venue acara
Sumber: Pasukan Blogger Joeragan Artikel 

Bertempat di Hotel Harris & Conventions, Festival City Link Bandung, prosesi wisuda dilakukan. Acara dimulai setelah anggota senat, VVIP, dàn keyonte speaker memasuki ruangan. Dengan regu penari sebagai pendampingnya, prosesi memasuki ruangan cukup menggetarkan. 

VVIP dan keynote spekaer memasuki ruangan
Sumber: Live IG @sttbandung

Kemudian dilanjutkan dengan tarian selamat datang yang dibawakan oleh unit seni tari STT Bandung. Selanjutnya pembukaan sidang senat terbuka oleh ketua STT Bandung. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dialunkan setelah itu, lalu mengheningkan cipta dan dilanjutkan dengan alunan lagu Mars STT Bandung. Perasaan bergetar dalam jiwa muncul ketika mendengar alunan yang penuh semangat tersebut. Unit paduan suara STT Bandung terbukti melakukan tugasnya dengan baik saat itu.

Tari Jaipong oleh Unit Tari STTB
Sumber: live IG @sttbandung

Acara dilanjutkan dengan laporan dari Ketua STT Bandung, Muchammad Naseer, S.Kom, M.T. yang dilanjutkan dengan sambutan dari ketua yayasan Dr. Dadang Hermawan.

Sambutan ketua STTB
Sumber: live IG @sttbandung


Acara wisuda STT Bandung kali ini menampilkan keynote speaker Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, M.B.A. Penerus dari bapak B.J. Habibe ini menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul "Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0". 
Keynote speaker: Ilham Habibie
Sumber: Pasukan Blogger JA

Ilham yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pelaksana Dewan TIK Nasional menyampaikan bahwa Indonesia merupakan bagian dari ekonomi global, yang akan menyongsong era teknologi 4.0 yang berbasis pada ekonomi digital, artificial intelegence, big data dan robotics. Merupakan tantangan bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan berbagai inovasi agar bisa stand out di era insdustri 4.0 ini. Ilham Habibie juga mengatakan bahwa karakter yang harus dimiliki para inovator di era 4.0 di antaranya adalah sebagai berikut, yaitu: 
- Opportunity mindset
- Formal Education / Training
- Proactivy
- Prudence
- Social Capital

Acara utama akhirnya tiba, yaitu pelantikan wisudawan dan wisudawati. Satu persatu mereka maju ke depan, dilantik, dan sah menyandang gelar sarjana. Raut-raut wajah bahagia terpancar dari mereka. 

Oh ya, bicara soal inovasi, adik-adik STT Bandung ini sangat mengagumkan. Terbukti dengan berbagai pencapaian mereka berikut ini, yang diumumkan setelah pelantikan, yaitu:

Skripsi terbaik dari prodi TI :
1. Virgiawan Candra Bhakti, S.T
Judul skripsi : Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed Dengan Pendekatan Karakuri
2. Indra Rukmana, S.T
Judul skripsi : Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linear Progamming
3. Zaenal Uyun, S.T
Judul skripsi: Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kansei Engineering

Skripsi Terbaik dari prodi TIF:
1. Deri Hermawan, S.KOM
Judul skripsi: Aplikasi 3D Virtual Reality Sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android
2. Regina Sukma Citra, S.KOM
Judul skripsi: Klasifikasi Ujaran Kebencian Dengan Metode Naive Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis Web
3. Yasti Aisyah Primianjani, S.KOM
Judul skripsi: Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik KWH Meter Pascabayar Berbasis Web Menggunakan Mikrokontroler 

Skripsi Terbaik dari prodi DKV
1. Andri Setiawan, S.Ds 
Judul skripsi: Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah
2. Bagus Arya Suseno, S.Ds 
Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT 07 RW 08 Baleendah Kab. Bandung
3. Luthfi Alfaritzi, S.Ds - Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat Untuk Anak (usia 8-12 tahun) di Kota Bandung

Melihat judul-judul skripsi di atas, saya menjadi tambah kagum dengan adik-adik STT Bandung ini. Betapa mereka telah disiapkan untuk menyongsong era industri 4.0

Selain itu ada juga kategori wisudawan terbaik, di antaranya adalah sebagai berikut: 
Wisudawan terbaik dari prodi TI: Dheyu Laksmi Wulandari, S.T
Wisudawan terbaik dari prodi TIF: Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom
Wisudawan Terbaik dari prodi DKV: Tiffani Zeta D, S.Ds

Dalam acara wisuda ini juga dilakukan penandatangan Mou dengan mitra STT Bandung, yaitu:
-  PT. Dirgantara Indonesia
-  Jasa Marga
-  Biofarma

Paduan suara STT Bandung
Sumber: Pasukan Blogger JA

Ada persembahan puisi untuk para orang tua, alunan lagu-lagu nasional dan pengucapan janji wisudawan. Acara berakhir dengan doa dan sidang senat terbuka pun, ditutup kembali oleh ketua STTB. Selamat kepada STT Bandung atas perhelatan yang megah ini. Selamat memasuki dunia baru adik-adikku. Semoga Indonesia menjadi lebih baik di tanganmu nanti. Aamiin.

WisudaXIVSTTBandung
#CampusofInnovation
#CampusofTechnology
#CampusofDesign
#CampusofCreativity
#CampusofFutureLeader

Rabu, 20 November 2019

Yuk, Ikut Serta Menjaga Cagar Budaya Indonesia Agar Tidak Musnah

Sekitar pertengahan 2018 yang lalu, saya dapàt tawaran menulis buku yang berjudul "Aku dan Cagar Budaya" bersama dengan 29 penulis lainnya. Penulisan buku ini digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Indscript Creative sebagai agensi para penulis. Awalnya, saya akan mengangkat tentang Bukit Kasih Kanonang di Sulawesi Utara sebagai obyek tulisan. Alasannya karena Bukit Kasih kanonang melambangkan kerukunan antar umat beragama, dengan berdirinya enam rumah ibadah di atas bukit kapur tersebut. 

Aku dan Cagar Budaya


Akan tetapi, obyek Bukit Kasih Kanonang ternyata tidak termasuk Cagar Budaya Indonesia. Lalu, apa yang dimaksud dengan cagar budaya? Berdasarkan pembekalan yang diberikan oleh Kemendikbud, dalam hal ini diwakili oleh Mbak Dewi Kurnianingsih, selaku Kepala Seksi Dokumentasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya, kami jadi tahu banyak hal tentang Cagar Budaya.


Pengertian Cagar Budaya
Seperti yang tercantum dalam UURI No. 11 Tahun 2010, yang dimaksud dengan Cagar Budaya adalah warisan budaya, yang bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Jadi tidak semua bangunan atau tempat yang unik dan tua, disebut sebagai cagar budaya, ya. Saya sempat salah paham tentang hal ini. Menurut DR. Lala M. Kolopaking sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Sosial Budaya 2016 dan lektor IPB, Indonesia merupakan sebuah negara adidaya budaya. Ada lima komponen budaya yang ada di Indonesia yaitu budaya geografis, budaya kesukuan, budaya kebangsaan, budaya keagamaan, dan budaya dunia.

Materi Digital Policy Kominfo 2019
Dokpri


Seiring perkembangan zaman, terjadi pergeseran budaya di masyarakat kita. Misalnya, rumah-rumah Limas yang ada di Palembang, jumlahnya semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tergantikan oleh rumah modern dengan bangunan beton. Di beberapa daerah lainpun, beberapa situs bersejarah banyak yang kondisinya sudah rusak. Sedangkan Palembang sendiri ada beberapa situs yang sudah diresmikan sebagai cagar budaya. 

Rumah Adat Palembang
Dokpri

Seperti Masjid Agung Palembang dan Benteng Kuto Besak. Masjid Agung Palembang merupakan peninggalan Sultan, yang telah dipugar beberapa kali. Pemugaran terakhir mencermikan perpaduan tiga budaya pada arsitekturnya. Yaitu budaya Eropa, budaya Tionghoa, dan budaya Melayu. 

Tulisan Bun tentang Masjid Agung Palembang di buku Aku dan Cagar Budaya
Dokpri


Jenis Cagar Budaya
Cagar budaya terbagi atas lima jenis, yaitu Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya. 

Bersifat Kebendaan
Undang-Undang mengatakan bahwa Cagar Budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan atau disebut tangible. Ini artinya bahwa warisan budaya yang masuk ke dalam kategori Cagar Budaya adalah warisan budaya yang berwujud nyata, dapat dirasakan oleh pancaindra, mempunyai massa dan dimensi yang nyata. Contohnya batu prasasti, candi, dan lain sebagainya.

Berada di Darat dan di Air
Salah satu pembeda antara UURI No. 5 Tahun 1992 dengan UURI NO. 11 Tahun 2010 adalah diakomodirnya Cagar Budaya yang ada di air. Contoh cagar budaya yang ada di air adalah BMKT atau Benda Muatan Kapal Tenggelam. Artinya BKMT termasuk benda yang memiliki nilai penting, dan bukan komoditas yang bisa diperdagangkan. 


Nilai Penting
Sebuah Cagar Budaya harus memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Boleh salah satunya saja atau kelima poin tersebut ada pada cagàr budaya. Penentuan ini dilakukan berdasarkan kajian mendalam oleh Tim Ahli Cagar Budaya, dan dibantu oleh lembaga yang berhubungan dengan kebudayaan.

Penetapan
Suatu benda atau tempat dapat dikatakan Cagar Budaya jika sudah melalui proses penetapan. Tanpa proses penetapan, suatu warisan budaya tidak dapat dikatakan sebagai Cagar Budaya. Penetapan dilakukan oleh pemerintah setempat berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya.

Pendaftaran Cagar Budaya
Untuk melestarikan dan merawat Cagar Budaya, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak. Tak terkecuali masyarakat yang harus dilibatkan. Bahkan, beberapa bangunan yang diduga Cagar Budaya merupakan milik pribadi masyarakat. Butuh kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan property miliknya yang diduga sebagai cagar budaya.

Lalu, bagaiman cara mendaftàrkan property kita sebagai Cagar Budaya? 
Berdasarkan UURI No. 11 Tahun 2010, Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestari dari berbagai displin ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan pengapusan Cagar Budaya.

Pendaftaran bisa dilakukan secara manual dengan datang ke kantor atau instansibyang membawahi bidang kebudayaan, atau bisa juga dilakukan secara online melalui laman www.cagarbudaya.kemdikbud.go.id.

Tiga Aspek dalam pendaftaran Cagar Budaya
Dalam pendaftaran cagar budaya, dibutuhkan tiga aspek pendukung yaitu:

1. Pendaftar
Bisa berupa badan usaha berbadan hukum, masyarakat, kelompok orang, atau perorangan.

2. Tim pendaftaran
Adalah tim yang bertugas menerima dan mengolah data pendaftaran. Tim ini dibentuk oleh kepala dinas atau kantor yang membidangi kebudayaan.

3. Objek yang didaftar.
Sedangkan objek yang didaftarkan adalah bisa berupa benda, bangunan, struktur, gedung, lokasi, atau satuan ruang geografis.

Setelah proses pendaftaran, selanjutnya akan dilakukan pengkajian oleh Tim Tenaga Ahli, yang akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat atau kepala daerah terhadap obyek tersebut. Selanjutnya menunggu keputusan pemda tentang penetapannya menjadi salah satu Cagar Budaya Indonesia.

Mari turut berpartisipasi pada Kompetisi 
"Blog Cagar Budaya Indonesia Rawat atau Musnah" 
untuk menjaga warisan budaya Indonesia.

#CagarBudayaIndonesia 
#KemendikbudxIIDN

Senin, 21 Oktober 2019

Konektivitas Transportasi Mendukung Daerah Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)

Bandar Udara Sibisa, Toba Samosir, Sumatera Utara
Sumber:  https://instagram.com/kemenhub151


Setahun yang lalu, saya beserta suami dan anak-anak sempat merasakan tinggal di wilayah Indonesia Timur. Tepatnya di Kepulauan Sula, Maluku Utara. Dari Jakarta kami terbang ke Ambon atau Ternate. Selanjutnya, kami akan menumpang KM. Permata Bunda ke Pelabuhan Sanana, Kepulauan Sula. Kalo start dari Ambon, kami akan berlayar selama 12 jam. Kalo start dari ternate, waktu tempuhnya menjadi lebih lama, yaitu 14 jam. Lumayan puas pokoknya, mah, naik kapal lautnya. Hehehe..

Secara geografis Kepulauan Sula lebih dekat ke Ambon, akan tetapi secara administratif, Kepualuan Sula masuk ke Ternate, Maluku Utara. Dengan jarak sejauh itu, seharusnya Kepulauan Sula sudah memiliki layanan penerbangan perintis. Selama ini, sudah ada Bandara Emalamo yang beroperasi di Sula, tapi penerbangannya hanya ada 2x seminggu. Sedangkan jumlah calon penumpang sangat banyak. Oleh karena itu, ketika pemerintah Bapak Jokowi-Jusuf Kalla mencanangkan program Indonesia Sentris, besar harapan saya Kepulauan Sula akan dilirik juga.

Pelabuhan Sanana, Kepulauan Sula, Maluku Utara
Dokpri


Capaian Lima Tahun Kemenhub
Dikutip dari laman Kementrian Perhubungan , Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa program Indonesia Sentris telah membuka akses keterisolasian dan meningkatkan perekonomian suatu daerah.

Kemenhub melakukan pembangunan infrastrukstur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris, untuk membuka keterisolasian. Caranya dengan memberikan dukungan aksesbilitas terhadap daerah 3TP (terluar, terdepan, tertinggal, dan perbatasan).

Di antaranya melalui penyediaan prasarana 18 rute tol laut, dengan tujuan menekan disparitas harga di Indobesia Timur. Saya merasakan perbedaan harga yang signifikan saat tinggal di Maluku Utara. Sandal jepit yang harga 25 ribu di Jakarta, bisa seharga 50 ribu jika dijual di Maluku utara. Luar biasa, bukan?

Selain itu, Kementrian Perhubungan juga menyediakan 891 trayek angkutan perintis (angkutan jalan, KA, SDP, laut dan udara). Dan pembangunan serta pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir.

Ada juga Program Jembatan Udara, yang diupayakan untuk meningkatkan konektivitas logistik dengan menyediakan 39 rute yang dilayani sampai ke daerah 3TP untuk pemerataan dan memberantas kesenjangan ekonomi.

Peran Konektivitas Bagi Daerah Wisata
Sebagai bentuk upaya peningkatan konektivitas transportasi untuk daerah wisata, salah satunya Kementrian Perhubungan mendukung Danau Toba sebagai Kawasan Startegis Pariwisata Nasional (KSPN).

Kementrian Perhubungan akan memperbaiki Bandara Sibisa di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Pada tahap awal pembangunan, terminal penumpang Bandara Silbila yang baru akan dilengkapi dengan apron berukuran 10 x 50 meter, yang dapat menampung 3 pesawat sekelas ATR-72.

Bandara Silbila nantinya akan berbagi peran dengan Bandara Silangit. Selain itu juga akan dibangun dermaga penyeberangan, penyediaan kapal RoRo, dan juga bus. Nantinya akan tersedia bus dari dan menuju Danau Toba yang akan disubsidi, sehingga lebih terjangkau oleh pengunjung.

Bandar Udara Letung, Kepulauan Anambas, Kepri
Sumber: https://instagram.com/kemenhub151

Konektivitas Kepualaun Anambas
Pulau Anambas terkenal dengah wisata Taman Laut-nya. Para diving dari penjuru dunia bergantian datang mengunjungi Anambas. Dari yang hanya menikmati pemandangan bawah lautnya saja, hingga ke ilmuwan yang mengadakan penelitian di lautan Anambas. Akses menuju ke sana lumayan sulit. Maklum, seperti halnya kabupaten-kabupaten yang ada di kepulauan, transportasi ke Anambas masih sangat terbatas.

Kementrian Perhubungan mulai membenahi Bandar udara Letung, yang terletak di Pulau Jemaja, kecamatan Jemaja Timur, kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau ini. Bandara yang dibangun pada tahun 2014 ini, mulai beroperasi tahun 2016 dengan total investasi sebesar 200 milyar dana APBN. Menteri Perhubungan mengharapkan, Bandar Udara Letung dapat meningkatkan perekonomian dan pariwisata di pulau terluar ini, yang dijadikan Taman Wisata Laut Nasioanal.
Bandara Nop Deliat, Dekai Yahukimo, Papua Barat
Sumber: https://instagram.com/kemenhub151


Konektivitas Wilayah Papua
Untuk pengembangan konektivitas wilayah Papua, Kementrian Perhubungan akan mengembangkan empat bandara di Papua Barat. Yaitu Bandara Rendani Manokwari, Bandara Siboru Fakpak, Bandara Raja Ampat, dan Bandara Domine Edward Osok, Sorong.

Bandara Nop Deliat di Dekai Yahukimo akan dijadikan bandara penghubung dari dan ke tengah pulau Papua. Posisi Dekai bisa dicapai dari arah Selatan dan dari dua tempat. Yaitu dari Asmat dan dari Mappi melalui sungai. Oleh karena pola distribusi logistik ke Papua menjadi lebih mudah dengan kapasitas yang lebih besar.

Bandara Rembele, Tanah Gayo, Nangroh Aceh Darussalam
Sumber: https://instagram.com/kemenhub151

Konektivitas Tanah Gayo
Mau berkunjung ke Tanah Gayo? Dataran Tinggi Gayo yang terletak di Provinsi Nangroh Aceh Darussalam ini, memiliki potensi wisata alam yang terkenal. Seperti Danau Laut Tawar, Goa Loyang Koro, Pantan Terong, dan Goa Putri Pukes. Untuk menjangkau Dataran Tinggi Gayo, kita bisa melewati Bandar Udara Rembele.

Sebagai perwujudan Nawa Cita Presiden jokowi, untuk melayani masyarakat di daerah terpencil, Bandar Udara Rembele telah melayani penerbangan komersil dari dan ke Bandara Kuala Namu.

Dengan berbagai kemudahan akses di atas, semoga potensi wisata daerah-daerah terpencil di Indonesia semakin terekspos. Semakin banyak kunjungan wisatawan, Insyaallah akan meningkatkan perekonomian kreatif masyarakata, yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Jangan lupa, selanjutnya menjadi tugas kita bersama untuk menjaga semua fasilitas tersebut. 

See, sekarang jika ingin mengunjungi daerah wisata di atas, sudah menjadi lebih mudah, bukan? Yuk, jadikan daerah-daerah di atas sebagai destinasi wisatamu sekarang juga!


"Tulisan ini diikutsertakan dalam 
Blogger Writing Competition "Transportasi Unggul, Indonesia Maju"



Referensi: 
Website kemenhub: http://dephub.go.id
Twitter: https://twitter.com/kemenhub151
Facebook: https://www.facebook.com/kemenhub151
Instagram: https://instagram.com/kemenhub151

Distrik Kelila, Tanah Papua yang Ingin Kudatangi

Pemukiman honai  penduduk Kelila Credit: dokpri Suatu hari di tahun 2007, Bun mendapat notif postingan facebook dari Daddy. Postinga...